Utsman bin Affan: Sosok Pemalu yang Tak Pernah Kenyang dari Al-Qur’an

Di antara para sahabat Nabi ﷺ, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai simbol kesucian jiwa dan kemuliaan akhlak. Beliau adalah manifestasi nyata dari ayat-ayat Al-Qur’an yang beliau cintai.

Cinta yang Tak Pernah Pudar pada Al-Qur’an

Hubungan Utsman dengan Al-Qur’an sangatlah intim. Siang harinya dihabiskan untuk berpuasa dan beramal, sementara malam harinya dihidupkan dengan sujud dan tilawah.

Beliau pernah berkata dengan kalimat yang sangat masyhur dan menampar kita semua:

“Jika hati kita bersih, maka kita tidak akan pernah kenyang dari Kitab Suci Al-Qur’an.”

Ketekunan Utsman dalam membaca Al-Qur’an begitu luar biasa hingga beliau tidak pernah meninggalkannya kecuali untuk urusan yang sangat mendesak.

Tangisan di Tepi Kubur

Meskipun dijamin masuk surga, Utsman memiliki rasa takut yang luar biasa terhadap kehidupan setelah mati. Hani, pembantu beliau, menceritakan bahwa setiap kali Utsman berdiri di pemakaman, ia pasti menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya yang lebat.

Ketika ditanya mengapa ia begitu takut pada kuburan padahal surga dan neraka lebih dahsyat, Utsman menjawab dengan sebuah riwayat yang menggetarkan:

“Alam kubur merupakan rumah pertama dalam kehidupan akhirat. Apabila seseorang tidak tersiksa di rumah itu, maka pada rumah-rumah selanjutnya akan mudah ia hadapi. Namun jika ia disiksa di sana, maka pada rumah-rumah selanjutnya akan lebih berat baginya.”

Bagi Utsman, kuburan adalah penentu awal nasib seorang hamba: apakah ia akan menuju taman surga atau lubang neraka.

Membeli Surga Dua Kali

Kedermawanan Utsman adalah legenda. Abu Hurairah bersaksi bahwa “Utsman bin Affan membeli surga dari Rasulullah sebanyak dua kali.”

  1. Sumur Rumah: Ketika beliau membeli sumur milik seorang Yahudi untuk diwakafkan bagi kepentingan umat Islam yang saat itu kesulitan air.
  2. Pasukan ‘Usrah (Perang Tabuk): Saat kaum muslimin kesulitan dana perang, Utsman menyumbangkan 300 ekor unta lengkap dengan pelananya, serta uang 1.000 Dinar emas.

Melihat tumpukan sedekah Utsman, Rasulullah ﷺ bersabda sambil membolak-balikkan uang emas itu:

“Tidak ada perbuatan apa pun yang dilakukan oleh Utsman akan membahayakan dirinya setelah hari ini.”(HR. Ahmad)

Pemimpin yang Zuhud dan Pemalu

Meski kaya raya dan menjadi Khalifah, Utsman tetap hidup dalam kesederhanaan. Hasan Al-Bashri pernah melihatnya tidur siang di masjid beralaskan mantel, hingga ada bekas tikar di wajahnya, tanpa pengawalan ketat.

Sifat malunya pun diakui oleh Nabi ﷺ sebagai sifat yang dicintai Allah. Utsman pernah bersumpah:

“Demi Allah, aku tidak pernah sekalipun melakukan perbuatan zina, baik pada masa jahiliyah ataupun sesudah aku memeluk Islam.”

Kelembutan hatinya juga terlihat pada perlakuan kepada pelayannya. Beliau memilih mengambil air wudhu sendiri di malam hari daripada membangunkan pelayan yang sedang beristirahat, karena menghargai waktu istirahat mereka.

Utsman bin Affan mengajarkan kita bahwa kekayaan dan kekuasaan bukanlah penghalang untuk menjadi hamba yang khusyu’wara’, dan mencintai Al-Qur’an di atas segalanya.

Referensi: Mengarungi Samudra Kemuliaan 10 Imam Qira’at  – Moh. Fathurrozi, Lc, M.Th,I & Rif’iyatul Fahimah, Lc, M. Th,I

Scroll to Top