Jejak Sejarah Al-Qur’an di Indonesia: Dari Goresan Tangan Ulama Hingga Mesin Cetak Palembang

Sejarah mushaf Al-Qur’an di Indonesia adalah perjalanan panjang yang membentang dari abad ke-13 hingga hari ini. Perjalanan ini terbagi menjadi dua fase besar: fase manuskrip (tulis tangan) dan fase pencetakan. Keduanya menyimpan cerita unik tentang bagaimana Islam berakar kuat di Nusantara.

1. Fase Manuskrip: Goresan Tangan yang Penuh Dedikasi (Abad 13-19 M)

Diperkirakan Al-Qur’an masuk ke Nusantara seiring berdirinya Kerajaan Samudra Pasai pada akhir abad ke-13. Hal ini diperkuat dengan berdirinya Pesantren Al-Qur’an Syekh Quro di Karawang pada 1418 M. Namun, bukti fisik tertua yang bisa ditemukan saat ini berasal dari abad ke-16.

Mushaf Tertua yang Tersisa: Berdasarkan penelitian Annabel Teh Gallop, mushaf tertua Nusantara yang masih ada saat ini adalah koleksi William Marsden (pejabat Inggris di Bengkulu). Mushaf ini bertarikh 1585 M (993 H) dan kini tersimpan di School of Oriental and African Studies (SOAS), London. Ada juga catatan tentang mushaf dari Masjid Agung Banten tahun 1553 M.

Penyalinan mushaf secara manual ini terus berlangsung hingga abad ke-19 di pusat-pusat Islam seperti Aceh, Palembang, Banten, Cirebon, hingga Ternate.

Karakteristik Unik Mushaf Kuno:

  • Rasm Imla’i: Berbeda dengan mushaf modern yang menggunakan Rasm Utsmani, mayoritas mushaf kuno Nusantara ditulis menggunakan Rasm Imla’i (penulisan sesuai bunyi). Hanya Mushaf Solo yang ditemukan cukup konsisten menggunakan Rasm Utsmani.
  • Tanda Baca Lokal: Meskipun tanda harakatnya mirip standar Khalil bin Ahmad, ada kreativitas lokal yang unik. Contohnya pada Mushaf Pandeglang, terdapat simbol khusus untuk tajwid: tanda (-/p) untuk Iqlab, (¿) untuk Idgham, dan (żic) untuk Ghunnah.

2. Fase Cetak: Revolusi Teknologi dari Palembang

Memasuki abad ke-19, teknologi cetak mulai menggantikan tulis tangan. Fakta yang membanggakan adalah mushaf cetak tertua di Asia Tenggara ternyata lahir di Palembang.

Mushaf Palembang (1848 M): Dicetak oleh Haji Muhammad Azhari pada 21 Agustus 1848 menggunakan teknik Litografi (cetak batu). Dengan teknologi ini, mereka mampu mencetak 105 mushaf dalam 50 hari—sebuah revolusi kecepatan dibandingkan tulis tangan.

Dominasi Mushaf Bombay dan “Mushaf Pojok”: Setelah era Palembang, pasar mushaf di Indonesia didominasi oleh dua jenis cetakan impor maupun tiruan lokal:

  1. Mushaf Bombay: Populer hingga tahun 1970-an. Ciri khasnya adalah huruf yang besar dan tebal, sehingga disukai oleh kalangan tua atau yang penglihatannya lemah.
  2. Mushaf Turki/Mesir (Mushaf Pojok): Populer di kalangan penghafal Al-Qur’an. Kelebihannya adalah tata letak ayat yang selalu berakhir di sudut halaman (pojok), yang sangat memudahkan proses menghafal.

Sejarah ini membuktikan bahwa kecintaan bangsa Indonesia terhadap Al-Qur’an telah melahirkan tradisi literasi dan adaptasi teknologi yang luar biasa sejak berabad-abad lampau.

Referensi: Penerapan Tarjih Rasm Utsmani & Dhabt Al-Qur’an (Studi Komperatif Mushaf Madinah dan Indonesia) – Rudi Wahyudi

Scroll to Top