
Surah Al-Hasyr (Pengusiran/Penghimpunan) turun sebagai catatan sejarah atas salah satu kemenangan politik dan psikologis terbesar di Madinah. Surah ini mendokumentasikan kehancuran Bani Nadhir, sebuah faksi Yahudi yang mengkhianati Piagam Madinah, serta membongkar kebusukan kaum Munafik yang menjadi “sekutu palsu” mereka.
Dalam surah ke-59 ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan Al-‘Izzah (Keperkasaan-Nya) dengan menimpakan kehinaan absolut kepada para pengkhianat, sekaligus meninggikan derajat orang-orang yang setia pada kebenaran.
Toleransi yang Dikhianati
Rasulullah ﷺ adalah peletak dasar toleransi konstitusional pertama di dunia melalui Piagam Madinah. Berbeda dengan peradaban imperium saat itu yang memaksa penyeragaman agama, Nabi ﷺ mengizinkan kaum Yahudi hidup berdampingan, menjalankan ibadah, dan mencari nafkah dengan status warga negara yang dilindungi (Mu’ahad/Musta’man).
Namun, air susu dibalas air tuba. Bani Nadhir, yang sejak awal merasa dengki karena nabi terakhir bukan dari ras mereka, merencanakan konspirasi tingkat tinggi: Mereka mengundang Nabi ﷺ untuk berunding, dengan niat melempar batu besar dari atas atap untuk membunuh beliau.
Wahyu turun menyelamatkan Nabi ﷺ. Pengkhianatan konstitusi ini berujung pada vonis pengusiran dari Madinah (Ayat 2). Sebuah hukuman yang sangat wajar (bahkan lunak) untuk ukuran kejahatan makar (treason) dalam hukum negara mana pun.
Sindrom Kepengecutan: Sekutu yang Saling Menikam
Ketika vonis pengusiran dijatuhkan, tokoh-tokoh Munafik (seperti Abdullah bin Ubay) datang merayu Bani Nadhir dengan janji heroik palsu: “Jangan pergi! Kami akan membela kalian. Jika kalian diperangi, kami bantu. Jika kalian diusir, kami ikut keluar.” (Ayat 11).
Namun, Al-Qur’an menelanjangi mentalitas asli mereka dalam Ayat 12: Mereka itu pengecut. Jika terjadi perang sungguhan, orang-orang munafik akan lari tunggang langgang. Mereka terlihat bersatu di permukaan, tetapi hati mereka tercerai-berai (Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syattaa – Ayat 14). Akibat panik karena janji palsu sekutu munafik, Bani Nadhir menghancurkan rumah-rumah mereka sendiri dari dalam. Allah menanamkan teror (ar-ru’b) langsung ke dalam jantung mereka.
Analogi Barsisha: Ketika Setan Cuci Tangan
Allah memberikan perumpamaan yang sangat tajam tentang koalisi kaum Munafik dan Yahudi ini, menyerupainya dengan tipu daya setan kepada manusia (dalam riwayat sering dikaitkan dengan kisah rahib bernama Barsisha).
Setan membujuk manusia untuk berbuat maksiat hingga murtad dengan janji perlindungan. Namun, setelah manusia itu benar-benar jatuh dan akan dieksekusi, setan berbalik badan dan berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu. Sungguh aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (Ayat 16). Begitulah janji manis kaum Munafik kepada Bani Nadhir—janji yang hanya berujung pada kebinasaan.
Surah ini ditutup dengan keagungan deretan Asmaul Husna (Ayat 22-24). Ini adalah afirmasi bahwa kemuliaan (Izzah) hanya milik Allah dan mereka yang bersama-Nya, sedangkan pengkhianatan hanya akan berujung pada kehinaan sejarah.
Referensi: Quran Mapping – Nur Fajri Romadhon




