Imam Al-Kisa’i: Menggabungkan Keluhuran Ilmu Al-Qur’an dan Puncak Tata Bahasa Arab

Jika ada satu tokoh yang membuktikan bahwa Al-Qur’an dan bahasa Arab adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, beliau adalah Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i (119 H – 189 H). Beliau bukan hanya menempati posisi ketujuh dalam deretan Imam Qira’at Sab’ah, tetapi juga merupakan mahaguru (punggawa) ilmu Nahwu aliran Kufah yang menjadi rival utama Imam Sibawaih dari Bashrah.

Posisinya sebagai Imam Qira’at ketujuh (yang ditetapkan oleh Ibnu Mujahid) bukanlah hasil dari lobi politik kekhalifahan, melainkan murni karena validitas sanad (mutawatir) dan dedikasinya yang tak tertandingi dalam mengajarkan Al-Qur’an.

1. Rela Turun Gunung: Belajar Langsung ke Pedalaman Badui

Kecerdasan Al-Kisa’i lahir dari perjuangan yang keras. Beliau tidak puas hanya belajar dari balik meja. Untuk menguasai bahasa Arab paling murni, beliau melakukan “penelitian lapangan” dengan tinggal dan berbaur bersama orang-orang Badui di pedalaman Hijaz. Beliau mencatat dialek, tata bahasa, dan kosa kata langsung dari lisan mereka. Dedikasi inilah yang membuat Imam Asy-Syafi’i memujinya: “Barang siapa yang mendalami ilmu Nahwu, maka ia berutang budi pada Imam Al-Kisa’i.”

2. Metodologi Qira’at: Seleksi (Ikhtiyar) yang Ketat

Qira’at Imam Al-Kisa’i bukanlah hasil rekayasa tata bahasa atau sekadar gabungan dialek Arab. Qira’at beliau adalah hasil Ikhtiyar (penyeleksian ketat) dari bacaan guru-gurunya, terutama Imam Hamzah az-Zayyat (di mana beliau mengkhatamkan Al-Qur’an hingga empat kali). Beliau mengambil jalan tengah yang moderat dan sangat dhabit(akurat) tanpa keluar dari atsar (riwayat) para pendahulunya.

3. Puncak Ketawadhuan: Mengakui Kesalahan di Hadapan Khalifah

Kapasitasnya sebagai guru bagi anak-anak Khalifah Harun Ar-Rasyid tidak membuatnya sombong. Suatu ketika, saat mengimami Khalifah, Al-Kisa’i melakukan kesalahan bacaan fatal (salah harakat) yang bahkan anak kecil pun tidak akan melakukannya.

Seusai shalat, ketika Khalifah bertanya dengan heran, Al-Kisa’i tidak mencari alasan pembenaran. Ia dengan jujur menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, kuda yang tangkas pun terkadang bisa tergelincir.” Kejujuran inilah yang membuat riwayat bacaannya sangat dipercaya oleh umat Islam; beliau tidak akan pernah menyembunyikan kebenaran demi reputasi.

Referensi: Mengarungi Samudra Kemuliaan 10 Imam Qira’at  – Moh. Fathurrozi, Lc, M.Th,I & Rif’iyatul Fahimah, Lc, M. Th,I

Scroll to Top