Sang Khatib Damaskus: Mengenal Hisyam bin Ammar, Guru Imam Bukhari dan Perawi Qira’at

Dalam silsilah Qira’at Sab’ah, nama Hisyam bin Ammar menempati posisi terhormat sebagai salah satu perawi utama dari Imam Ibnu Amir al-Syami. Namun, sosoknya jauh lebih besar dari sekadar perawi. Beliau adalah Imam (panutan), Khatib (orator), Mufti, dan Muhaddits (ahli hadis) kebanggaan masyarakat Damaskus yang dianugerahi umur panjang dan keberkahan ilmu yang luar biasa.

Profil Sang Imam

Bernama lengkap Hisyam bin Ammar bin Nashir al-Sullami al-Dimasyqi, dengan panggilan Abu al-Walid. Lahir pada tahun 153 H di masa Khalifah Al-Mansur, beliau tumbuh menjadi ulama yang komplet. Para ulama memberinya predikat tsiqah (terpercaya), dhabit (kuat hafalan), fasih lisan, dan sangat luas ilmunya baik secara riwayah maupun dirayah.

Imam al-Ahwazi mencatat satu fakta mencengangkan: selama 20 tahun, Imam Hisyam tidak pernah menyiapkan teks ketika berkhutbah. Ini menunjukkan betapa fasih dan piawainya beliau dalam retorika bahasa Arab, sehingga beliau dikenal sebagai “Khatib Damaskus”.

Pengorbanan Ayah dan “Cambukan” Imam Malik

Perjalanan intelektual Imam Hisyam diwarnai kisah pengorbanan yang mengharukan. Ayahnya rela menjual rumah seharga 20 Dinar hanya untuk membiayai haji dan pendidikan Hisyam.

Ada satu kisah unik saat beliau belajar kepada Imam Malik bin Anas di Madinah. Saat itu, Hisyam muda yang haus ilmu memberanikan diri bertanya kepada Imam Malik yang sedang duduk berwibawa layaknya raja. Imam Malik justru memerintahkan murid-muridnya mengangkat Hisyam seperti anak kecil, lalu mencambuknya sebanyak 17 kali layaknya guru menghukum murid.

Hisyam pun menangis. Saat ditanya alasannya, ia menjawab pilu: “Ayah saya menjual rumahnya dan menasihati untuk menemuimu dan menyimak pengajianmu, akan tetapi engkau malah memukulku.”

Mendengar itu, luluhlah hati Imam Malik. Beliau berkata, “Tulislah.” Sebagai ganti rasa sakit itu, Imam Malik meriwayatkan 17 hadis untuk Hisyam—jumlah yang sama dengan cambukan yang diterimanya.

Tujuh Permohonan yang Menembus Arsy

Imam Hisyam adalah sosok yang sangat dekat dengan Allah. Beliau pernah memanjatkan 7 doa spesifik, dan beliau bersaksi bahwa 6 di antaranya telah dikabulkan Allah secara nyata di dunia:

  1. Memohon agar dimudahkan membenarkan/meriwayatkan hadis Nabi ﷺ (Dikabulkan).
  2. Memohon agar bisa berangkat Haji (Dikabulkan).
  3. Memohon umur panjang hingga melewati 100 tahun (Dikabulkan).
  4. Memohon dianugerahi harta 100 Dinar yang halal (Dikabulkan).
  5. Memohon memiliki murid yang banyak (Dikabulkan).
  6. Memohon agar dapat berkhutbah di Masjid Damaskus (Dikabulkan).

Adapun permohonan ketujuh, yaitu agar Allah mengampuni dosa-dosanya dan kedua orang tuanya, beliau serahkan hasilnya kepada Allah di akhirat kelak.

Transmisi Sanad dan Murid-Muridnya

Dalam bidang Qira’at, beliau berguru kepada Syaikh ‘Irak al-Murri dan Ayyub bin Tamim, yang sanadnya bersambung hingga Ibnu Amir, Abu Darda’, dan Rasulullah ﷺ.

Keilmuan beliau menjadi magnet bagi para penuntut ilmu. Doanya untuk memiliki banyak murid terwujud nyata.

  • Di Bidang Qira’at: Muridnya antara lain Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, Ahmad bin Yazid al-Hulwani, dan Musa bin Jumhur.
  • Di Bidang Hadis: Beliau menjadi guru bagi para raksasa hadis. Imam Al-BukhariAbu DaudAn-Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan hadis darinya dalam kitab-kitab induk mereka.

Wasiat Kebenaran

Karya tulis beliau mungkin tidak banyak ditemukan, namun “karya ideologis” berupa ribuan murid dan satu kalimat hikmahnya tetap abadi: “Katakan yang haq (benar), kalian akan ditempatkan oleh Dzat yang Maha Haq bersama dengan para penghuni yang haq, di hari yang tidak ada pengadilan kecuali dengan haq”.

Setelah pengabdian panjang melewati satu abad, Imam Hisyam bin Ammar wafat pada tahun 245 H.

Referensi: Mengarungi Samudra Kemuliaan 10 Imam Qira’at  – Moh. Fathurrozi, Lc, M.Th,I & Rif’iyatul Fahimah, Lc, M. Th,I

Scroll to Top