
Dalam ilmu tajwid, setiap huruf hijaiyah memiliki sifat-sifat yang menentukan cara pelafalannya. Di antara sifat-sifat yang paling fundamental adalah Hams (الهمس) dan Jahr (الجهر). Keduanya adalah sifat berlawanan yang berfokus pada satu hal krusial: mengalir atau tertahannya nafas saat huruf tersebut diucapkan.
Memahami perbedaan keduanya adalah kunci untuk menghasilkan pelafalan yang fasih dan presisi.
1. Al-Hams (الهمس): Mengalirnya Nafas
Hams secara bahasa (lughah) berarti lemah (الضعف) atau suara yang samar (الصوت الخفي). Allah ﷻ menggunakan kata ini dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan suara yang sangat pelan:
$$…فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا$$
“…maka kamu tidak mendengar kecuali suara yang samar.” (QS. Taha: 108)
Mayoritas ahli tafsir menyebutkan bahwa hams pada ayat tersebut adalah suara langkah kaki manusia saat digiring ke Padang Mahsyar.
Secara istilah tajwid, Hams adalah mengalirnya nafas (النفس) saat mengucapkan huruf karena lemahnya sandaran huruf tersebut pada makhraj-nya.
Huruf-huruf Hams ini begitu lemah sehingga mereka membutuhkan aliran nafas untuk dapat terdengar. Tanpa nafas tersebut, suaranya nyaris tidak akan keluar. Ibaratnya, huruf-huruf ini seperti mobil yang membutuhkan dorongan (nafas) agar bisa berjalan.
Anda bisa mengujinya dengan mengucapkan: (سَسِسُسْ) atau (شَشِئُشُ). Anda akan merasakan dengan jelas ada aliran udara/nafas yang keluar bersamaan dengan suara.
Perlu dicatat, tidak semua huruf Hams memiliki kadar nafas yang sama. Huruf seperti Shad (ص), Kha’ (خ), dan Tsa’ (ث) memiliki sifat Hams yang kadarnya berbeda (cenderung lebih sedikit) dibandingkan huruf lainnya.
2. Al-Jahr (الجهر): Tertahannya Nafas
Jahr adalah kebalikan dari Hams. Secara bahasa, Jahr berarti mengumumkan atau memperjelas (الإعلان). Dikatakan jahara bil-qawl jika seseorang mengeraskan suaranya.
Secara istilah tajwid, Jahr adalah tertahannya aliran nafas saat mengucapkan huruf karena kuatnya sandaran huruf tersebut pada makhraj-nya.
Huruf-huruf Jahr (total 19 huruf, sisa dari huruf Hams) keluar dengan kekuatan. Imam Sibawayh menjelaskan bahwa sandaran pada makhraj huruf-huruf ini begitu kuat sehingga ia mampu mencegah nafas untuk ikut mengalir bersama suara.
Penting untuk dipahami, “nafas” yang dimaksud di sini adalah nafas yang berasal dari mulut, bukan nafas dari hidung (yang disebut zafir atau ghunnah).
Singkatnya, saat mengucapkan huruf Jahr, pita suara bergetar kuat, makhraj tertutup rapat, sehingga tidak ada desisan nafas yang menyertainya. Suara yang keluar terdengar jelas, kuat, dan lantang.
Fiqhu Aḥkām at-Tajwīd – Dr. Muḥammad Ad-Dasūqī Kaḥīlah




