
Hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah sebuah kenikmatan agung yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah mencecapnya. Ia adalah anugerah yang mampu menyucikan jiwa, memberkahi umur, dan mengarahkan hidup menuju rida Ilahi. Sebagaimana firman Allah ﷻ:
إِنَّهَٰذَاالْقُرْآنَيَهْدِيلِلَّتِيهِيَأَقْوَمُوَيُبَشِّرُالْمُؤْمِنِينَالَّذِينَيَعْمَلُونَالصَّالِحَاتِأَنَّلَهُمْأَجْرًاكَبِيرًا
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)
Kisah berikut, yang dituturkan oleh seorang pengajar tahfizh, menjadi cermin dan tamparan keras bagi kita semua tentang betapa berharganya nikmat bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Pertemuan yang Menggetarkan di Tanah Suci
Sang pengajar mengisahkan, “Saat aku tengah berada di Tanah Suci, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya, yang kuperkirakan berasal dari Turki. Dengan bahasa Arab yang terpatah-patah, ia menunjuk mushaf yang kubawa dan bertanya, ‘Anda dapat membaca Al-Qur’an?'”
“Aku menjawab, ‘Ya.'”
Seketika, wajah wanita itu memerah dan matanya mengalirkan air mata. Ia mulai menangis dengan suara yang keras, seolah sebuah musibah besar telah menimpanya. Kondisi ini membuatku terharu.
“Apa yang engkau alami?” tanyaku.
Dengan suara tertahan seolah tercekik, ia menjawab, “Aku tidak dapat membaca Al-Qur’an.”
“Kenapa?” tanyaku lagi.
“Aku tidak bisa membacanya, karena aku tidak bisa berbahasa Arab,” jawabnya pilu.
Aku pun menasihatinya, “Mohonlah kepada Allah semoga Dia mengajarimu. Mohonlah kepada-Nya agar membantumu dalam membaca Al-Qur’an.”
Mendengar itu, ia menyeka air matanya dan mengangkat kedua tangannya, berdoa dengan penuh kepasrahan, “Ya Allah, bukakanlah pikiranku. Ya Allah, bukakanlah pikiranku hingga aku dapat membaca Al-Qur’an.” Doa itu ia ulang berkali-kali.
Kemudian, ia menatapku dan berkata, “Aku merasa bahwasanya aku akan meninggal sebelum aku dapat membaca Al-Qur’an. Bila aku meninggal sebelum dapat membacanya, maka aku akan berada di dalam neraka.”
Cambuk Peringatan dari Air Mata yang Tulus
Mendengar pengakuan dan ketakutan wanita itu, sang pengajar merenung dalam-dalam. “Subhanallah,” katanya dalam hati. “Ini adalah kalamullah. Seorang wanita non-Arab dari negara sekuler, begitu khawatir bertemu Allah sedangkan ia belum bisa membaca kitab-Nya.”
Cita-cita tertingginya begitu sederhana namun mulia: bisa mengkhatamkan Al-Qur’an. Ia merasa seolah bumi yang luas ini menghimpitnya karena satu ketidakmampuannya itu.
Refleksi ini kemudian menjadi sebuah “cambuk” peringatan yang keras. Sang pengajar melanjutkan perenungannya, yang ditujukan bagi kita semua:
“Lantas, bagaimana dengan kita yang telah meninggalkan Al-Qur’an?! Bagaimana dengan kita yang telah diberikan Al-Qur’an namun kita telah melupakannya?! Bagaimana dengan kita, sedangkan fasilitas begitu mudah untuk membantu menghafal, memahami, dan membacanya. Namun, kita malah mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik, dan kita tidak menekuninya?!”
Air mata wanita Turki itu jauh lebih mengena daripada ribuan nasihat. Doanya yang tulus laksana cambuk yang menyadarkan orang-orang yang diberi kenikmatan, namun justru sibuk melupakannya.
Kisah ini berakhir dengan satu pertanyaan yang menusuk kalbu: “Cita-cita wanita tersebut adalah mampu mengkhatamkan Al-Qur’an. Lantas, bagaimana dengan kita? Cita-cita kita justru telah jatuh berguguran!”
Referensi: Kisah Inspiratif Para Penghafal Al-Quran – Ahmad Salim Badwilan




