Hukum Bertemunya Dua Sukun (Iltiqa’ al-Sakinain)

Dalam ilmu tajwid, salah satu kaidah yang fundamental untuk mencapai bacaan Al-Qur’an yang fasih dan benar adalah memahami Hukm Iltiqa’ al-Sakinain (حكم التقاء الساكنين), atau hukum tentang pertemuan dua huruf yang sama-sama berharakat sukun. Kesalahan dalam menerapkan kaidah ini dapat menyebabkan perubahan makna atau bacaan yang kurang lancar.

Secara umum, pertemuan dua sukun ini dapat terjadi dalam satu kata atau di antara dua kata yang berbeda. Mari kita bedah satu per satu.

Pertama: Pertemuan Dua Sukun dalam SATU KATA

Kondisi ini terbagi menjadi dua keadaan:

1. Terjadi Hanya Saat Berhenti (Waqf) Ini adalah kondisi yang paling umum dan hukumnya diperbolehkan. Pertemuan dua sukun terjadi secara alami ketika kita berhenti pada sebuah kata yang huruf terakhirnya disukunkan karena waqf.

  • Contoh pada Huruf Mad: …ٱلْعَلَمِينَ (dibaca: al-‘aalamiin)
  • Contoh pada Huruf Lin: …هَٰذَا ٱلْبَيْتِ (dibaca: al-bayt)
  • Contoh pada Huruf Shahih: …وَٱلْفَتْحُ (dibaca: al-fat-h)

Ketika bacaan disambung (wasal), huruf terakhir kembali ke harakat aslinya dan tidak ada lagi pertemuan dua sukun.

2. Terjadi Saat Berhenti (Waqf) & Disambung (Wasal) Kondisi ini hanya ditemukan pada kasus Mad Lazim Kalimi Muthaqqal. Di sini, huruf mad bertemu dengan huruf bertasydid (yang sejatinya terdiri dari satu huruf sukun dan satu huruf berharakat).

  • Contoh: (ٱلطَّآمَّةُ), (ٱلْحَآقَّةُ), (صٓ) Untuk mengatasi pertemuan dua sukun ini, solusinya adalah dengan memanjangkan bacaan mad menjadi 6 harakat, baik saat wasal maupun waqf.

Kedua: Pertemuan Dua Sukun di DUA KATA (Hanya Saat Wasal)

Inilah inti kaidah Iltiqa’ al-Sakinin yang paling sering ditemui. Saat menyambung bacaan antara dua kata, di mana akhir kata pertama adalah sukun dan awal kata kedua juga sukun (biasanya karena hamzah wasal), pertemuan ini tidak dapat dihindari. Solusinya ada dua:

Solusi #1: Dihapus (Al-Hadhf) Jika huruf sukun pertama adalah huruf mad (ا, و, ي), maka huruf mad tersebut dihapus atau dilebur dalam pelafalan (namun tetap ada dalam tulisan mushaf).

  • Contoh:
    • (فِي ٱلْأَرْضِ) dibaca → fil-ardhi (huruf ya hilang)
    • (قَالُواْ ٱللَّهُمَّ) dibaca → qaalullahumma (huruf alif pada qaaluu hilang)
    • (حَاضِرِي ٱلْمَسْجِدِ) dibaca → haadhiril-masjidi (huruf ya hilang)

Solusi #2: Diberi Harakat (At-Tahrik) Jika huruf sukun pertama bukan huruf mad, maka ia harus diberi harakat.

  • Kaidah Asal: Diberi Harakat Kasrah Ini adalah solusi paling umum dalam riwayat Hafs ‘an ‘Ashim. Huruf sukun pertama diberi harakat kasrah.
    • Contoh:
      • (قُلْ ٱدْعُواْ) dibaca → qulid-‘uu
      • (طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ) dibaca → tharafayin-nahaari
      • (أَنِ ٱقْتُلُوٓاْ) dibaca → aniqtuluu

Pengecualian Khusus dalam Riwayat Hafs

Meskipun kaidah asalnya adalah kasrah, ada beberapa kondisi khusus di mana huruf sukun pertama diberi harakat fathah atau dhammah.

A. Diberi Harakat Fathah (3 Kondisi):

  1. Huruf Jar ‘Min’ (مِنْ): Jika bertemu alif lam, nun sukun pada min diberi fathah.
    • Contoh: (مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ) dibaca minasy-syaahidiin.
  2. Huruf ‘Ta’ Ta’nits’ (تْ) bertemu Alif Tasniyah: Jika ta’ sukun bertemu alif untuk menunjukkan dua orang.
    • Contoh: (قَالَتَآ) asalnya (قَالَتْ + ا) dibaca qaalataa.
  3. Pada Awal Surah Ali ‘Imran: Mim sukun pada (الٓمٓ) bertemu lafaz Allah.
    • Contoh: (الٓمٓ ٱللَّهُ) dibaca alif laam miimallaahu.

B. Diberi Harakat Dhammah (2 Kondisi):

  1. ‘Waw Lin’ untuk Jamak: Jika waw sukun penanda jamak bertemu sukun lain.
    • Contoh: (فَتَمَنَّوُاْ ٱلْمَوْتَ) dibaca fatamannawul-mauta.
  2. ‘Mim’ Jamak: Jika mim sukun penanda jamak bertemu sukun lain.
    • Contoh: (عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ) dibaca ‘alaykumul-qitaalu.

Menguasai kaidah ini akan secara signifikan meningkatkan kelancaran dan ketepatan bacaan Al-Qur’an kita, terutama saat menyambung ayat demi ayat.

Taisir ar-Rahman fi Tajwid al-Qur’an – Dr. Su’ād ‘Abd al-Ḥamīd

Scroll to Top