
Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan paripurna dalam segala aspek kehidupan. Beliau adalah pembaca Al-Qur’an terbaik, pemilik suara terindah saat melantunkannya, dan manusia yang paling dalam penghayatannya terhadap Kitabullah. Mengikuti jejak beliau bukanlah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan untuk meraih kebahagiaan.
Allah ﷻ telah menegaskan status ini dalam firman-Nya:
$$لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا$$
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Kunci Kebahagiaan Hakiki: Mengikuti Rasul
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah ﷻ telah mengaitkan seluruh kebahagiaan dunia dan akhirat dengan mengikuti Rasulullah ﷺ, dan menjadikan seluruh kesengsaraan dunia dan akhirat sebagai akibat dari menentang beliau. Mengikuti sunnahnya adalah jaminan untuk mendapat petunjuk, keamanan, kemenangan, kemuliaan, dan segala kebaikan.
Kebutuhan kita terhadap petunjuk beliau, menurut Ibnul Qayyim, lebih mendesak daripada kebutuhan tubuh terhadap nyawa atau mata terhadap cahaya. Tidak ada jalan menuju ridha Allah kecuali melalui ajaran yang beliau bawa.
Oleh karena itu, keimanan seseorang tidak akan sempurna hingga ia mencintai Nabi ﷺ lebih dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia (HR. Muslim), serta tunduk sepenuhnya pada setiap ketetapan beliau tanpa rasa enggan sedikit pun.
Cermin Interaksi Nabi ﷺ dengan Al-Qur’an
Di antara sekian banyak teladan, cara beliau berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah cermin yang harus kita gunakan setiap hari. Berikut adalah petunjuk-petunjuk beliau dalam membaca dan menghayati Al-Qur’an:
1. Memiliki Wirid Harian (Hizib)
Rasulullah ﷺ memiliki hizib atau porsi bacaan Al-Qur’an harian yang tidak pernah beliau tinggalkan. Ini adalah fondasi. Para ulama mengatakan, “Barangsiapa yang tidak memiliki hizib harian, maka ia tidak akan mampu untuk mengkhatamkan Al-Qur’an secara rutin.” Sungguh merugi jika hari-hari berlalu tanpa menyentuh harta karun kebaikan ini.
2. Membaca dengan Tartil dan Jelas
Bacaan beliau tidak pernah terburu-buru. Beliau membacanya secara tartil, lambat, meneliti huruf per huruf, dan berhenti pada setiap akhir ayat. Beliau selalu memulai bacaan dengan ta’awudz untuk memohon perlindungan dari setan.
3. Senang Mendengarkan dan Meresapi
Selain membaca sendiri, beliau ﷺ juga sangat senang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain. Beliau pernah meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an untuknya. Ketika Ibnu Mas’ud sampai pada ayat:
$$فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا$$
“Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” (QS. An-Nisa: 41)
Nabi ﷺ berkata, “Cukup.” Ibnu Mas’ud menoleh dan mendapati kedua pipi beliau telah basah oleh air mata.
4. Memperindah Suara (Tahsin)
Beliau memiliki suara termerdu di antara semua manusia dan memerintahkan umatnya untuk memperindah suara saat membaca Al-Qur’an. Beliau bersabda, “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak memperindah suaranya saat membaca Al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhari).
Namun, “memperindah” di sini bermakna mengeluarkan suara alami terbaik yang dimiliki, bukan memaksakan diri atau dibuat-buat (tahallu’).
5. Membaca di Setiap Keadaan
Al-Qur’an adalah sahabat beliau di setiap waktu: saat berdiri, duduk, berbaring, baik dalam keadaan berwudhu maupun tidak. Beliau hanya meninggalkannya saat dalam kondisi hadats besar (junub).
Puncak Penghayatan: Tangisan dan Doa untuk Umat
Interaksi Nabi ﷺ bukan sekadar bacaan, tapi penghayatan yang menggetarkan jiwa.
- Tangisan untuk Umat: Beliau pernah melantunkan doa Nabi Ibrahim (QS. Ibrahim: 36) dan doa Nabi Isa (QS. Al-Ma’idah: 118). Kemudian beliau mengangkat tangan dan menangis sambil berkata, “Ya Allah, (selamatkanlah) umatku, (selamatkanlah) umatku.”
- Satu Ayat Semalam Suntuk: Abu Dzar meriwayatkan bahwa pada suatu malam, Rasulullah ﷺ shalat malam hanya dengan mengulang-ulang satu ayat hingga menjelang fajar. Ayat itu adalah:$$إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ$$”Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Ma’idah: 118)Pagi harinya beliau menjelaskan bahwa beliau sedang memohon syafaat untuk umatnya.
- Waspada Terhadap Istidraj: Beliau juga menjadikan Al-Qur’an sebagai peringatan. Beliau bersabda bahwa jika melihat seorang hamba terus diberi nikmat dunia padahal ia gemar bermaksiat, ketahuilah itu adalah istidraj. Beliau lalu membaca (QS. Al-An’am: 44-45).
- Akan Ditanya Tentang Nikmat: Suatu malam, beliau, Abu Bakar, dan Umar keluar karena lapar. Setelah dijamu hingga kenyang oleh sahabat Anshar, beliau berkata, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, kita semua akan ditanya tentang kenikmatan yang kita rasakan ini pada Hari Kiamat nanti.”
Teladan-teladan inilah yang menjadi penerang jalan bagi siapa pun yang merindukan kebahagiaan sejati dan keselamatan di akhirat.
Referensi: Hālu As-Salaf Ma’a Al-Qur’ān – Dr. Badar bin Nashir Al-Badar




