Surah Ath-Thur: Hancurnya Logika Ateis di Hadapan Pertanyaan Tuhan

Surah Ath-Thur adalah surah ke-52 (Makkiyah) yang terdiri dari 49 ayat, turun setelah Surah As-Sajdah dan sebelum Surah Al-Mulk. Namanya diambil dari ayat pertama, Wa at-Thur, yang berarti “Demi Gunung/Bukit”.

Para ulama tafsir sepakat bahwa Ath-Thur yang dimaksud dengan alif-lam (ma’rifah/spesifik) di sini adalah Bukit Sinai, tempat Nabi Musa alaihissalam menerima wahyu dan berbicara langsung dengan Allah.

Namun, mengapa Allah bersumpah dengan bukit ini? Ternyata, ada korelasi filosofis yang mendalam: Sebagaimana Bukit Sinai pernah hancur lebur (dakkan) saat Allah menampakkan keagungan-Nya kepada Nabi Musa (QS. Al-A’raf: 143), demikian pula argumentasi dan syubhat kaum musyrikin akan hancur lebur oleh dalil-dalil dalam surah ini.

Guncangan Logika bagi Kaum Musyrikin

Tema besar surah ini adalah menghancurkan syubhat dan kerancuan berpikir para penentang dakwah. Allah memberondong mereka dengan 15 pertanyaan retoris bertubi-tubi (dari ayat 29-43) yang membuat akal siapa pun tak berkutik.

Salah satu puncaknya ada di ayat 35:

$$أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ$$

“Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)

Pertanyaan ini adalah pukulan telak bagi logika ateisme atau agnostisisme. Dalam logika filsafat, ini mematahkan dua kesesatan berpikir (Logical Fallacy):

  1. Infinite Regress (Tasalsul): Jika mereka bilang tercipta tanpa pencipta (kebetulan), maka siapa yang menciptakan bahan dasarnya? Dan siapa yang menciptakan pencipta bahan dasar itu? Terus mundur tanpa henti adalah mustahil.
  2. Circular Reasoning (Daur): Jika mereka bilang “kami menciptakan diri sendiri”, ini mustahil. Bagaimana sesuatu yang belum ada (belum eksis) bisa melakukan pekerjaan (mencipta)?

Satu-satunya jawaban logis adalah Opsi Ketiga: Ada Zat Maha Awal yang tidak diciptakan, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kisah Zubair bin Muth’im: Hati yang Nyaris Terbang

Kekuatan argumen ayat ini pernah membuat seorang tokoh Quraisy, Zubair bin Muth’im, masuk Islam. Saat itu ia belum muslim dan mendengar Nabi ﷺ membaca Surah Ath-Thur saat Shalat Maghrib.

Ketika sampai pada ayat 35-37, ia berkata:

“Hampir-hampir hatiku melayang terbang (saking kuatnya hujjah ayat ini).” (HR. Bukhari & Muslim)

Ia merasa logikanya terpojok dan hatinya tertembus kebenaran yang tak bisa disangkal lagi.

Koneksi dengan Surah Adz-Dzariyat

Surah Ath-Thur memiliki hubungan erat dengan surah sebelumnya, Adz-Dzariyat.

  • Adz-Dzariyat: Membahas tentang Rezeki yang menjamin kehidupan fisik.
  • Ath-Thur: Membahas tentang Argumentasi Tauhid yang menjamin kehidupan akal dan hati.

Pesan tersiratnya: Seharusnya rezeki yang kalian nikmati (dari Adz-Dzariyat) membuat kalian bersyukur dan bertauhid, bukan malah digunakan untuk mendebat Tuhan Pemberi Rezeki (seperti dibantah di Ath-Thur).

Surah ini mengajarkan kita bahwa iman Islam bukan hanya soal rasa, tapi juga soal akal sehat yang kokoh.

Referensi: Quran Mapping – Nur Fajri Romadhon

Scroll to Top