
Sejarah perkembangan Qira’at ‘Ashim riwayat Hafs di Nusantara seringkali dianggap sebagai “ruang gelap” dalam sejarah Islam. Belum banyak sejarawan yang secara spesifik meneliti kapan dan siapa yang membawa bacaan ini hingga menjadi standar bagi muslim Indonesia hari ini.
Namun, dengan melacak rute penyebaran Islam (Da’i) dan jalur perdagangan kuno, kita bisa menemukan titik terang rekonstruksi sejarah ini.
1. Gerbang Awal: Jalur Sutra Laut (Abad ke-7)
Sejak masa antiquity (kuno), hubungan Timur Tengah dan Nusantara sudah terjalin. Catatan pendeta I-Tsing (671 M) menyebutkan adanya kapal pedagang muslim (Arab & Persia) yang berlabuh di Sribuza (Palembang/Sriwijaya) dalam perjalanan dari Kanton ke Timur Tengah.
Pada masa Dinasti Umayyah, Khalifah Mu’awiyah memindahkan ibu kota ke Damaskus dan mengintensifkan jalur laut dari Bashrah ke Kanton. Jalur ini melewati India (Malabar/Koromandel) dan Nusantara. Posisi Sriwijaya menjadi sangat vital sebagai entreport (pelabuhan transit) yang menghubungkan dua dunia ini.
2. Pergeseran dari Pedagang ke Pendakwah (Abad 12-13)
Pada awalnya, interaksi muslim di Nusantara murni bisnis. Namun, memasuki akhir abad ke-12, terjadi pergeseran. Kemunduran Sriwijaya dan kebijakan pajak yang mencekik membuat pedagang muslim mencari pelabuhan lain.
Di saat yang sama, pasca jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol (1258 M), gelombang pengembara Sufi dan ulama mulai menumpang kapal dagang untuk menyebarkan Islam. Mereka tidak lagi hanya berdagang, tapi melakukan penetrasi budaya dan pernikahan dengan penduduk lokal (Pribumi), membentuk komunitas seperti Pekojan.
3. Mengapa Qira’at ‘Ashim? Analisis “Siapa Pembawanya”
Ini adalah inti analisis sejarahnya. Siapa yang membawa bacaan Imam ‘Ashim ke sini?
- Bukan Arab Generasi Awal: Islam masuk abad ke-7, sedangkan Imam ‘Ashim baru wafat tahun 127 H (744 M). Saat Islam pertama masuk, Qira’at ‘Ashim belum dikodifikasi.
- Peran Muslim Persia: Persia ditaklukkan Islam pada era Umar bin Khattab (Perang Qadisiyah & Mada’in). Lokasi Persia sangat dekat dengan Kufah (Irak), tempat tinggal Imam ‘Ashim. Sangat logis jika mualaf Persia belajar mengaji kepada ulama Kufah (sanad Ibnu Mas’ud), yang kemudian menjadi basis Qira’at ‘Ashim.
- Jalur Baghdad: Perawi Hafs (murid utama ‘Ashim) diketahui pernah tinggal di Baghdad. Ketika Baghdad hancur diserang Mongol (1258 M), banyak ulama dan sufi yang hijrah ke arah timur (termasuk Nusantara). Mereka inilah yang kemungkinan besar membawa mushaf dan cara baca Qira’at ‘Ashim riwayat Hafs yang mereka pelajari di Baghdad.
Kesimpulan
Meskipun pedagang India (Gujarat/Malabar) sering disebut sebagai pembawa Islam, namun secara genealogi keilmuan Qira’at, Ulama Persia dan Pelarian Baghdad memiliki peluang terbesar sebagai penyebar Qira’at ‘Ashim. Kedekatan geografis mereka dengan Kufah (markas Imam ‘Ashim) dan Baghdad (tempat tinggal Hafs) menjadi bukti sejarah yang paling kuat.
Referensi: Sejarah Qira’at Al-Qur’an di Nusantara – Wawan Djunaedi




