Mengenal Tarjumanul Qur’an: Sepupu Nabi yang Menjadi Rujukan Sahabat Senior

Jika ada satu nama sahabat yang paling sering disebut dalam kitab-kitab Tafsir Al-Qur’an, dialah Abdullah bin Abbas(Ibnu Abbas). Sepupu Rasulullah ﷺ ini dijuluki Tarjumanul Qur’an (Penafsir Al-Qur’an) dan Hibrul Ummah (Sang Ulama Umat).

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, usia Ibnu Abbas baru menginjak 15 tahun. Namun, mengapa ia bisa menjadi rujukan utama para sahabat senior seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib? Jawabannya terletak pada lima fondasi kesuksesannya.

Rahasia Kecerdasan Sang “Samudra Ilmu”

Pencapaian luar biasa Ibnu Abbas bukanlah sesuatu yang instan. Para ulama mencatat setidaknya ada 5 faktor utama di balik luasnya ilmu beliau:

1. Doa Spesusial dari Rasulullah ﷺ

Saat Ibnu Abbas masih kecil, Nabi ﷺ pernah memeluknya dan memanjatkan doa yang menembus langit:

$$اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ$$

“Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama, dan ajarilah ia ilmu takwil (tafsir Al-Qur’an).” (HR. Ahmad)

Doa inilah benih utama yang membuat pemahaman Ibnu Abbas terhadap ayat-ayat Al-Qur’an sangat tajam dan presisi.

2. Kedekatan Akses dengan Rumah Nabi

Ibnu Abbas diasuh oleh bibinya, Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu ‘anha. Hal ini memberinya akses VIPuntuk melihat langsung keseharian Nabi, mendengar hadisnya, dan mengetahui persis kapan serta di mana sebuah ayat turun (asbabun nuzul).

3. Adab Ekstrem dalam Menuntut Ilmu

Inilah fase yang paling menggetarkan. Setelah Nabi wafat, Ibnu Abbas menyadari bahwa ilmu kini ada di dada para sahabat senior (Kaum Anshar dan Muhajirin). Ia tidak gengsi mendatangi mereka satu per satu.

Pernah suatu ketika, ia mendatangi rumah seorang sahabat Anshar di siang hari yang terik. Karena sahabat itu sedang tidur siang, Ibnu Abbas menolak mengetuk pintu. Ia memilih berbaring di atas tanah berdebu di depan pintu rumah sahabat tersebut sambil tertiup angin panas, menunggu hingga sang pemilik rumah bangun.

Ketika sahabat itu keluar dan kaget melihat sepupu Nabi tidur di tanah, ia berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, kenapa tidak utus orang saja memanggilku?”

Ibnu Abbas menjawab: “Tidak, aku yang butuh ilmu, maka akulah yang harus mendatangimu.”

4. Penguasaan Sastra Arab Kuno

Ibnu Abbas sangat cerdas dalam memanfaatkan Diwan (kumpulan syair Arab kuno) untuk memecahkan makna kata-kata sulit (gharib) dalam Al-Qur’an. Baginya, karena Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab, maka membedah bahasanya adalah kunci membedah maknanya.

5. Keberanian Berijtihad

Ia memiliki akal yang gemar berpikir dan lisan yang gemar bertanya. Khalifah Umar bin Khattab sangat menyukai kejujuran akademisnya. Pernah Umar menguji para sahabat senior tentang tafsir Surah An-Nashr. Mayoritas menjawab itu adalah perintah bertasbih saat menang perang. Namun Ibnu Abbas, yang saat itu paling muda, berani menjawab beda: “Itu adalah pertanda ajal Rasulullah sudah dekat.” Umar pun membenarkannya.

Tangisan Sang Mufassir

Meski ilmunya setinggi langit, Ibnu Abbas adalah sosok yang sangat takut kepada Allah. Ia lebih memilih membaca satu surah dengan tartil dan menangis tersedu-sedu, daripada mengkhatamkan Al-Qur’an dengan cepat namun hatinya kosong.

Suatu malam, ia shalat hanya membaca satu ayat berulang-ulang:

“Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu…” (QS. An-Nisa: 123). Ia menangis hingga pagi menjelang, sampai-sampai air matanya meninggalkan bekas garis di pipinya laksana tali sandal yang usang.

Ibnu Abbas wafat di Thaif pada tahun 68 H di usia 71 tahun. Wafatnya ditangisi umat, sebagaimana kata Jabir bin Abdullah: “Hari ini, orang yang paling berilmu dan paling murah hati telah tiada.”

Referensi: Hālu As-Salaf Ma’a Al-Qur’ān – Dr. Badar bin Nashir Al-Badar

Scroll to Top