Imam Hamzah az-Zayyat: Sang Pedagang Minyak yang Dipakaikan Mahkota Langit

Dalam deretan Imam Qira’at Sab’ah (Tujuh), ada satu nama yang memadukan kejeniusan intelektual, kemandirian finansial, dan spiritualitas tingkat tinggi. Beliau adalah Imam Hamzah bin Habib az-Zayyat (80 H – 156 H).

Julukan az-Zayyat (pedagang minyak) disematkan karena profesi beliau yang kerap berdagang minyak, keju, dan kacang-kacangan dari Hulwan ke Kufah. Melalui perniagaannya, beliau mencontohkan bagaimana seorang ahli Al-Qur’an tidak boleh menggantungkan hidupnya dari belas kasihan manusia.

Integritas Tingkat Tinggi: Menolak Segelas Air

Di tengah gemerlapnya kota Kufah, Imam Hamzah memimpin majelis Al-Qur’an setelah wafatnya Imam ‘Ashim. Namun, ada satu pantangan keras bagi beliau: Pantang menerima upah sekecil apa pun dari mengajarkan Al-Qur’an.

Integritas ini tergambar dari sebuah kisah masyhur. Suatu hari di bawah terik matahari yang menyengat, seorang muridnya menyodorkan segelas air dingin untuk sang guru. Imam Hamzah menolaknya dengan lembut namun tegas:

“Aku tidak menerima pemberian apa pun—bahkan sekadar minum—dari orang yang pernah belajar Al-Qur’an kepadaku. Karena aku hanya berharap rida dan surga-Nya.”

Bahkan, saat seorang murid ingin melunasi utang ayahnya kepada Imam Hamzah, beliau menolaknya karena khawatir itu dianggap sebagai kompensasi dari ilmu yang diajarkannya.

Kredibilitas Sanad: Al-Qur’an dan Ilmu Faraidh

Imam Hamzah bukan ulama sembarangan. Beliau diakui kehebatannya oleh Imam Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri, terutama dalam dua disiplin ilmu yang paling sulit: Al-Qur’an dan Ilmu Faraidh (Waris).

Sanad bacaan beliau bersambung dengan sangat kuat melalui para Tabi’in senior hingga bermuara kepada lima sahabat mulia: Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, dan Ubay bin Ka’ab.

Meskipun di kemudian hari ada beberapa ulama (seperti Imam Ahmad) yang kurang menyukai gaya bacaan sebagian murid Hamzah karena dianggap berlebihan (terlalu panjang dalam mad atau takalluf), namun otoritas keilmuan dan keshahihan riwayat Imam Hamzah sendiri telah disepakati mutawatir oleh ijmak ulama (termasuk Ibnu Mujahid dan Adz-Dzahabi).

Kisah Mengharukan: Dialog dengan Allah di Alam Mimpi

Keikhlasan Imam Hamzah berbuah manis. Beliau pernah menceritakan mimpinya yang membuat beliau sering berguling di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.

Dalam mimpinya di Hari Kiamat, beliau dipanggil menghadap Allah ﷻ. Allah menyuruhnya membaca Surah Al-An’am dan Al-A’raf. Setelah itu, terjadilah dialog sanad yang menggetarkan:

Allah: “Siapa yang mengajarimu?” Hamzah: “Sulaiman Al-A’masy.” Allah: “Siapa yang mengajari Sulaiman?”Hamzah: “Yahya bin Watsab.” …hingga sanad itu bersambung kepada Nabi Muhammad ﷺ, lalu kepada Jibril.

Allah kemudian bertanya: “Siapa yang mengajari Jibril?” Imam Hamzah terdiam karena malu. Allah berfirman: “Katakanlah: Engkau (ya Allah).” Lalu Imam Hamzah berkata: “Engkaulah yang mengajari Jibril, wahai Tuhanku.”

Dalam mimpi itu, Allah memberikan pengakuan luar biasa: “Demi kebenaran Al-Qur’an, Aku sangat memuliakan Ahlul Qur’an… Aku tidak akan menyiksa lisan yang tak pernah letih membaca Al-Qur’an dengan api neraka.” Lalu Allah memakaikannya mahkota kehormatan sebagai balasan atas keikhlasannya mengajar tanpa kenal lelah.

Itulah Imam Hamzah az-Zayyat. Sosok yang menjadikan Al-Qur’an sebagai napasnya, berdagang sebagai penyambung hidupnya, dan akhirat sebagai satu-satunya tujuannya. Dari beliau, lahirlah perawi-perawi hebat seperti Imam Khalaf dan Khallad yang menjaga estafet Al-Qur’an hingga hari ini.

Referensi: Mengarungi Samudra Kemuliaan 10 Imam Qira’at  – Moh. Fathurrozi, Lc, M.Th,I & Rif’iyatul Fahimah, Lc, M. Th,I

Scroll to Top