Imam ‘Ashim bin Abi an-Najud: Pewaris “Cahaya Kufah” dan Pemilik Qira’at Paling Populer di Dunia

Jika kita membuka mushaf Al-Qur’an yang tersebar di sebagian besar dunia Islam hari ini—termasuk di Indonesia—kita akan menemukan tulisan kecil di bagian akhir: “Riwayat Hafs dari Imam ‘Ashim”. Siapakah sosok Imam ‘Ashim yang bacaannya menjadi standar bacaan miliaran muslim ini?

Beliau adalah ‘Ashim bin Bahdalah (Abi an-Najud) al-Asadi al-Kufi, seorang Tabi’in agung yang menjadi pilar utama keilmuan Al-Qur’an di kota Kufah setelah era para sahabat.

Kufah: Kota Para Pakar Al-Qur’an

Kufah bukan kota sembarangan. Ia adalah pusat ilmu yang dibangun oleh para sahabat Nabi. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah tinggal di sana dan dijuluki “Sinar Kufah” karena ilmunya yang menerangi kota. Dari tradisi ilmu yang kokoh inilah Imam ‘Ashim lahir dan tumbuh.

Beliau berguru kepada tiga ulama besar Kufah yang belajar langsung dari para sahabat utama:

  1. Abu Abdurrahman as-Sullami (Murid Utsman, Ali, dan Zaid bin Tsabit).
  2. Zir bin Hubaisy (Murid Ibnu Mas’ud).
  3. Sa’ad bin Iyas as-Syaibani (Murid Ibnu Mas’ud).

Sanad Imam ‘Ashim dinilai sangat tinggi karena hanya berjarak dua perawi dari Rasulullah ﷺ.

Profil Sang Imam: Suara Indah dan Akhlak Mulia

Imam ‘Ashim dikenal memiliki dua keahlian utama: fashahah (kefasihan) yang luar biasa dan itqan (ketelitian) yang tinggi. Lebih dari itu, beliau dianugerahi suara yang sangat merdu.

Imam Syu’bah (salah satu perawinya) bersaksi: “Saya tidak pernah melihat dan mendengar seseorang yang lebih bagus dalam membaca Al-Qur’an dibandingkan ‘Ashim bin Abi an-Najud.”

Selain ahli Qur’an, beliau juga pakar Nahwu, Bahasa Arab, Fiqih, dan Hadis. Para ulama hadis seperti Imam Ahmad dan Abu Hatim memberikan predikat tsiqah (terpercaya) dan shaduq (jujur) kepadanya. Hadis-hadis riwayatnya bahkan termaktub dalam Kutubus Sittah (enam kitab induk hadis).

Metode Mengajar: Warisan Sang Guru

Imam ‘Ashim adalah cerminan dari gurunya, Abu Abdurrahman as-Sullami.

  • Setoran 5 Ayat: Sebagaimana gurunya, Imam ‘Ashim hanya mengajarkan 5 ayat dalam satu kali pertemuan kepada murid-muridnya. Metode ini menjamin hafalan yang kuat dan mutqin.
  • Prioritas Orang Pasar: Beliau selalu mendahulukan orang-orang pasar, pedagang, dan pebisnis untuk menyetorkan hafalan agar waktu mencari nafkah mereka tidak terganggu. Sebuah bentuk kepekaan sosial yang luar biasa.

Karomah Istiqamah dan Ibadah

Kekuatan hafalan Imam ‘Ashim adalah buah dari istiqamah. Beliau pernah sakit selama dua tahun dan tidak bisa muraja’ah (mengulang hafalan). Namun, saat sembuh dan dites, tidak ada satu pun huruf yang salah atau lupa! Hafalannya telah mendarah daging.

Ibadahnya pun menakjubkan. Imam Abu Bakar menceritakan bahwa jika shalat, Imam ‘Ashim berdiri tegak tak bergerak laksana kayu. Pada hari Jumat, beliau sering shalat sunnah hingga menjelang Ashar. Bahkan setiap melihat masjid, beliau selalu mengajak mampir untuk shalat, seolah kerinduannya pada rumah Allah tak pernah tuntas.

Wafatnya Sang Ahli Qur’an

Hingga detik-detik terakhir hayatnya, Al-Qur’an tetap mengalir di lisannya. Saat sakaratul maut, beliau terdengar terus mengulang ayat:

$$ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ$$

“Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya.” (QS. Al-An’am: 62)

Beliau membacanya dengan tajwid yang sempurna, seolah-olah sedang shalat.

Imam ‘Ashim wafat pada tahun 127 H di Kufah, namun warisan bacaannya terus hidup melalui dua perawi utamanya: Syu’bah dan Hafs. Jutaan lisan yang melantunkan Al-Qur’an hari ini adalah amal jariyah yang tak terputus bagi sang Imam

Referensi: Mengarungi Samudra Kemuliaan 10 Imam Qira’at  – Moh. Fathurrozi, Lc, M.Th,I & Rif’iyatul Fahimah, Lc, M. Th,I

Scroll to Top