Al-Qur’an: Pedang Bermata Dua yang Bisa Menjadi Rahmat atau Laknat

Al-Qur’an ibarat dua mata pisau. Di satu sisi, ia adalah sumber keberkahan yang mampu mengangkat derajat manusia setinggi langit. Namun di sisi lain, ia bisa menjadi penuntut yang menjatuhkan martabat manusia serendah-rendahnya.

Rasulullah ﷺ melalui lisan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu telah memberikan kaidah tegas:

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat satu kaum lantaran (mengagungkan) Kitab ini, dan menghempaskan martabat satu kaum lantaran (menistakan) Kitab ini.” (HR. Muslim)

1. Bukti Al-Qur’an Mengangkat Derajat (Rahmat)

Sejarah mencatat bagaimana Al-Qur’an mengharumkan nama para pelayannya.

  • Ibnu Jarir ath-Thabari: Beliau menulis kitab sejarah besar Tarikh al-Umam wal Muluk, tapi namanya lebih abadi dan harum sebagai Mufassir lewat kitabnya Jami’ al-Bayan.
  • Ibnu Katsir: Beliau adalah ahli sejarah dengan kitab Al-Bidayah wan Nihayah, namun dunia lebih mengenalnya lewat kemuliaan Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim.

Ini bukti nyata bahwa siapa yang melayani Al-Qur’an, Allah akan mengangkat namanya di dunia sebelum di akhirat.

2. Ketika Al-Qur’an Melaknat Pembacanya

Namun, ada sisi yang menakutkan. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Banyak orang membaca Al-Qur’an, tapi Al-Qur’an melaknatinya.”

Siapakah mereka? Apakah mereka yang bacaannya masih terbata-bata? Atau para penghafal yang lupa hafalannya?Bukan.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa laknat ini bukan untuk pemula yang sedang belajar (yang justru dapat pahala ganda) atau penghafal yang lupa karena sifat manusiawi. Jika demikian, niscaya tidak ada orang yang berani belajar Al-Qur’an.

Laknat ini tertuju kepada orang yang paham isi Al-Qur’an namun perilakunya bertentangan dengannya. Mereka adalah Ahlul Qur’an yang menjadikan ayat-ayat Allah hanya di kerongkongan, tapi tidak sampai ke hati dan perbuatan.

3. Logika “Semakin Tinggi, Semakin Kencang Anginnya”

Mengapa sanksinya begitu berat? Karena status Ahlul Qur’an adalah status elit. Semakin tinggi status seseorang, semakin berat konsekuensi dari kesalahannya.

Perhatikan analogi berikut:

  • Istri Nabi: Dalam Surah Al-Ahzab ayat 30, Allah memperingatkan istri Nabi bahwa jika mereka berbuat keji, azabnya dilipatgandakan dua kali lipat dibanding wanita biasa. Kenapa? Karena mereka adalah Ummul Mukminin, panutan umat.
  • Tempat & Waktu Suci: Berbuat maksiat di Tanah Haram atau di bulan Ramadhan dosanya jauh lebih dahsyat daripada di tempat/waktu biasa. (HR. Tirmidzi).

Demikian pula seorang pengemban Al-Qur’an. Ketika ia bermaksiat atau menyepelekan hukum Allah, jatuhnya akan lebih sakit karena ia membawa “bendera” kalam Ilahi.

Maka, mari jadikan Al-Qur’an sebagai Hujjah laka (pembelamu), bukan Hujjah ‘alaika (penuntutmu).

Referensi: Keistimewaan Al-Quran – Ahsin Sakho Muhammad

Scroll to Top