
Jika Anda mencari sosok manusia yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ dalam hal karakter, ketenangan, dan cara beribadah, maka dialah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud). Sahabat bertubuh kecil yang kakinya pernah ditertawakan karena kurus, namun Nabi membelanya dengan sabda: “Demi Allah, kedua betis itu di timbangan (Mizan) nanti lebih berat daripada Gunung Uhud.”
Mantan Penggembala yang Menjadi Ulama Besar
Kisah Islamnya Ibnu Mas’ud bermula dari kejujuran. Saat masih remaja dan menggembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’ith, Nabi ﷺ dan Abu Bakar yang sedang dikejar Quraisy meminta susu. Ibnu Mas’ud menolak dengan tegas: “Aku orang yang dipercaya (amanah), aku tidak boleh memberi kalian susu milik orang lain.” Kejujuran inilah yang memikat hati Nabi. Setelah melihat mukjizat Nabi memerah susu dari kambing yang belum dikawini, Ibnu Mas’ud langsung meminta diajari kalimat-kalimat suci itu. Nabi mendoakannya: “Kamu akan menjadi anak yang terpelajar.”
Doa itu terkabul. Ibnu Mas’ud menjadi orang keenam yang masuk Islam dan ulama paling pakar tentang Al-Qur’an.
Standar Bacaan Al-Qur’an yang Orisinal
Ibnu Mas’ud memiliki sanad bacaan yang sangat istimewa karena ia menerimanya fresh from the oven langsung dari lisan Nabi ﷺ sebanyak 70 surah. Rasulullah ﷺ bahkan bersabda:
“Barangsiapa yang ingin membaca Al-Qur’an yang matang (segar/tepat) sebagaimana diturunkan, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Ummi Abd (Ibnu Mas’ud).” (HR. Ahmad)
Suatu malam, Nabi ﷺ pernah menyimak bacaan Ibnu Mas’ud di masjid hingga beliau menangis dan bersabda: “Mintalah apa saja, pasti dikabulkan.”
Pakar Tafsir yang Tak Tertandingi
Kedalaman ilmunya diakui oleh seluruh sahabat. Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab merujuk kepadanya. Ibnu Mas’ud pernah bersumpah:
“Demi Allah, tidak satu ayat pun yang diturunkan kecuali aku mengetahui di mana diturunkannya dan terkait peristiwa apa. Jika ada orang yang lebih tahu dariku dan bisa ditempuh unta, pasti aku akan mendatanginya.”
Nasihat Emas untuk Para Penghafal Al-Qur’an
Ibnu Mas’ud menetapkan standar tinggi bagi para Ahlul Qur’an. Baginya, penghafal Al-Qur’an tidak boleh sama dengan orang awam.
“Seharusnya seorang penghafal Al-Qur’an itu dikenal dari malamnya saat orang tidur, dari siangnya saat orang makan (puasa), dari tangisnya saat orang tertawa, dan dari diamnya saat orang sibuk berdebat.”
Beliau juga mengingatkan bahaya maksiat bagi ilmu: “Aku tidak habis pikir jika ada orang berilmu melupakan ilmunya karena dosa yang dilakukannya.” Dosa, menurut Ibnu Mas’ud, adalah pemadam cahaya ilmu dan penghalang rezeki.
Warisan di Kufah
Setelah Nabi wafat, Ibnu Mas’ud menetap di Kufah dan membangun madrasah Al-Qur’an di sana. Dari tangan dinginnya, lahirlah generasi Tabi’in hebat seperti Alqamah, Masruq, dan Al-Hasan Al-Bashri. Qira’at Imam ‘Ashim dan Imam Hamzah yang kita kenal sekarang pun sanadnya bermuara kepada Abdullah bin Mas’ud.
Beliau mengajarkan kita bahwa kemuliaan tidak diukur dari fisik atau harta, melainkan dari seberapa dekat hati kita dengan Al-Qur’an.
Referensi: Hālu As-Salaf Ma’a Al-Qur’ān – Dr. Badar bin Nashir Al-Badar




