Muhkam & Mutashabih: Kunci Memahami Ayat Sifat Allah dan Hukum Fiqih

Al-Qur’an adalah kitab hidayah yang sempurna. Namun, jika kita menelitinya lebih dalam, kita akan menemukan fenomena unik: ada ayat yang maknanya sangat jelas (clear), tapi ada pula yang maknanya samar atau butuh penafsiran mendalam.

Dalam ilmu Al-Qur’an, ini dikenal dengan istilah Al-Muhkam wal Mutashabih. Memahaminya adalah kunci agar tidak salah tafsir, terutama dalam masalah akidah dan hukum.

1. Tiga Sudut Pandang Al-Qur’an

Sebelum masuk ke definisi teknis, kita perlu tahu bahwa Al-Qur’an bisa dilihat dari tiga perspektif:

  • Muhkam Seluruhnya: Artinya seluruh Al-Qur’an itu kokoh (mutqin), susunan katanya sempurna, dan jauh dari kekurangan (QS. Hud: 1).
  • Mutashabih Seluruhnya: Artinya seluruh ayat Al-Qur’an itu serupa dalam keindahan, kefasihan, dan kebenarannya (QS. Az-Zumar: 23).
  • Sebagian Muhkam, Sebagian Mutashabih: Ini adalah pembagian secara hukum dan makna yang menjadi fokus pembahasan kita.

2. Definisi Muhkam dan Mutashabih

Imam Fakhruddin Ar-Razi memberikan definisi yang terpilih:

  • Al-Muhkam: Ayat yang dalil/maknanya kuat, jelas, dan hanya memiliki satu kemungkinan makna (Nas dan Zhahir). Contoh: “Allah itu Satu”“Dirikanlah Shalat”.
  • Al-Mutashabih: Ayat yang dalil/maknanya masih samar, memiliki banyak kemungkinan tafsir, atau butuh takwil.

3. Mengapa Allah Menurunkan Ayat Mutashabih?

Mungkin muncul pertanyaan: “Kenapa tidak semuanya dibuat jelas saja biar tidak bingung?” Ternyata ada hikmah besar di baliknya:

  1. Ujian Keimanan: Menguji apakah seorang hamba beriman kepada semua ayat Allah, atau hanya yang sesuai logikanya saja.
  2. Stimulasi Intelektual: Melatih akal manusia untuk taddabur, riset, dan menggali makna terdalam. Jika semua jelas, otak manusia akan pasif.
  3. Bukti Kelemahan Manusia: Menunjukkan bahwa sehebat apa pun ilmu manusia, ada hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah (seperti Kiamat, Roh, dll).
  4. Rahmat: Agar Al-Qur’an relevan sepanjang zaman dan bisa menampung berbagai ijtihad hukum yang solutif bagi manusia.

4. Kategori Mutashabih dan Cara Menyikapinya

Ayat-ayat samar ini terbagi dalam beberapa jenis, dan sikap kita harus tepat:

A. Sifat-Sifat Allah (Mutashabih Makna) Contoh: “Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5) atau “Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS. Al-Fath: 10).

  • Sikap yang Benar (Mazhab Salaf): Kita mengimani ayat tersebut sebagaimana datangnya, menyucikan Allah dari penyerupaan dengan makhluk (tasybih/tajsim), dan menyerahkan hakikat “bagaimana”-nya (kaifiyat) hanya kepada Allah. Kita tidak memvisualisasikan “Tangan” Allah seperti tangan manusia.

B. Huruf Muqatha’ah (Mutashabih Lafaz) Contoh: Alif Lam Mim, Kaf Ha Ya ‘Ain Shad.

  • Sikap yang Benar: Ini adalah rahasia Allah (huruf-huruf misterius) yang menunjukkan mukjizat Al-Qur’an. Sebagian ulama berpendapat maknanya wallahu a’lam (hanya Allah yang tahu).

C. Konteks Sejarah & Hukum Contoh: Ayat tentang Nasi’ (mengundur bulan haram) atau masuk rumah dari belakang. Ayat ini menjadi mutashabih (membingungkan) bagi orang yang tidak tahu sejarah kebiasaan Jahiliyah. Maka solusinya adalah belajar Asbabun Nuzul.

Kesimpulan

Keberadaan ayat Mutashabih bukanlah kekurangan, melainkan kesempurnaan Al-Qur’an yang menuntut kita untuk menjadi Rasikhuna fil ‘Ilmi (orang yang mendalam ilmunya). Bagi orang berilmu, ayat samar justru menjadi ladang pahala untuk terus belajar dan tunduk di hadapan ilmu Allah yang Mahaluas.

Referensi: Kaifa Tahfazul Quran – Mustofa Murad

Scroll to Top