5 Tanda Anda Sedang Mengabaikan Al-Qur’an (Meski Rajin Membacanya)

Pernahkah terbayang, kelak di Hari Kiamat, Rasulullah ﷺ yang kita harapkan syafaatnya justru mengadu kepada Allah tentang perilaku kita?

Allah merekam aduan Nabi tersebut dalam Surah Al-Furqan ayat 30: “Berkatalah Rasul: Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan (mahjuura).”

Apa sebenarnya makna Mengabaikan Al-Qur’an (Hajrul Qur’an)? Apakah hanya sekadar tidak membacanya? Ternyata tidak sesederhana itu.

5 Bentuk Pengabaian Al-Qur’an (Menurut Ibnul Qayyim)

Ibnul Qayyim rahimahullah merinci bahwa seseorang bisa dianggap mengabaikan Al-Qur’an jika melakukan salah satu dari hal berikut, meskipun ia menghafalnya:

  1. Hajrul Sama’: Tidak mau mendengarkan dan tidak mengimaninya.
  2. Hajrul Amal: Tidak mengamalkan isinya. Ia membaca halal-haram, tapi tidak mematuhi batasan tersebut.
  3. Hajrul Tahkim: Tidak menjadikannya sebagai hakim/sumber hukum dalam masalah ushul (pokok) maupun furu’ (cabang) agama. Ia lebih percaya pada logika atau pendapat manusia daripada dalil Al-Qur’an.
  4. Hajrul Tadabbur: Membacanya hanya di lisan, tapi tidak mau merenungkan (tadabbur) maknanya dan tidak berusaha memahami apa maksud Allah dalam ayat tersebut.
  5. Hajrul Istisyfa’: Tidak menjadikannya sebagai obat (syifa’). Ketika hati sakit (gelisah, dengki, ragu), ia mencari penyembuh dari selain Al-Qur’an.

Solusinya: Hidupkan Hati dengan Tadabbur

Lawan dari mengabaikan adalah Tadabbur. Tadabbur bukan sekadar membaca terjemahan. As-Sa’di menjelaskan bahwa tadabbur adalah memfokuskan pikiran pada makna, melihat konteks awal dan akhir, serta konsekuensi dari ayat tersebut.

Mengapa Tadabbur itu Krusial?

  • Nutrisi Hati: Ibnul Qayyim berkata, “Membaca satu ayat dengan tadabbur dan pemahaman lebih baik daripada mengkhatamkan Al-Qur’an (tanpa pemahaman).” Satu ayat yang meresap bisa menyembuhkan penyakit hati dan mendatangkan kemanisan iman.
  • Cermin Diri: Al-Ajuri mengumpamakan Al-Qur’an sebagai cermin. Dengan tadabbur, kita bisa melihat “wajah” amal kita, mana yang baik dan mana yang buruk.

4 Penghalang Utama Tadabbur

Jika kita merasa sulit menangis atau bergetar saat membaca Al-Qur’an, waspadai 4 penghalang ini:

  1. Dosa yang Menumpuk: Dosa ibarat karat yang menutupi hati (Raan). Hati yang kotor tidak akan bisa menangkap cahaya Al-Qur’an.
  2. Hati yang Sibuk: Hati yang penuh dengan hiruk-pikuk dunia, nyanyian, atau hal sia-sia, tidak akan punya ruang untuk firman Allah.
  3. Tidak Paham Bahasa Arab: Al-Qur’an turun dalam Bahasa Arab yang fasih. Tidak mengerti kaidah bahasa membuat kita seperti mendengar suara tanpa makna. Kunci gudang ilmu Al-Qur’an adalah Bahasa Arab.
  4. Menjauhi Tafsir: Membaca Al-Qur’an tanpa merujuk kitab tafsir atau memahami Asbabun Nuzul akan membuat pemahaman menjadi dangkal dan tidak nikmat.

Mari kita cek kembali interaksi kita dengan Al-Qur’an. Jangan sampai kita rajin membacanya, namun status kita di mata Allah adalah “Pengabaian Al-Qur’an” karena tidak mentadaburi dan mengamalkannya.

Referensi: Adab-Adab Halaqah Al-Qur’an – Sayyid Mukhtar Abu Syadi

Scroll to Top