
Salah satu keajaiban bahasa Al-Qur’an adalah kemampuannya menjelaskan hal-hal abstrak menjadi konkret melalui perumpamaan (amtsal). Ternyata, tidak semua perumpamaan di Al-Qur’an diawali dengan kata “seperti” atau “bagaikan”. Para ulama membagi perumpamaan dalam Al-Qur’an menjadi tiga jenis utama:
1. Perumpamaan Jelas (Amtsal Musharrahah)
Ini adalah perumpamaan yang secara tegas menggunakan kata perumpamaan (tasybih) seperti “matsalu”, “ka-“, atau “ka-anna”.
- Contoh Munafik (QS. Al-Baqarah: 17-20): Allah mengumpamakan orang munafik dengan dua hal:
- Api: Mereka menyalakan api (masuk Islam secara lahiriah) untuk mendapat manfaat cahaya/materi, tapi hati mereka tetap gelap gulita.
- Air Hujan: Mereka seperti orang yang ditimpa hujan lebat disertai petir (Al-Qur’an dengan perintah & larangannya). Mereka menutup telinga karena takut mati, padahal hujan itu membawa kehidupan.
- Contoh Kebenaran vs Kebatilan (QS. Ar-Ra’d: 17): Wahyu diumpamakan sebagai air hujan yang menghidupkan hati. Saat air mengalir di lembah, muncul buih (kebatilan/syahwat). Buih itu akan hilang tak berguna, sedangkan air yang bermanfaat akan tetap ada di bumi.
2. Perumpamaan Terpendam (Amtsal Kaminah)
Ini adalah perumpamaan yang tidak menyebut kata “seperti” secara eksplisit, tetapi maknanya mengandung kebijaksanaan yang ringkas dan padat. Ayat-ayat ini sering menjadi dalil untuk prinsip hidup yang seimbang.
- Prinsip “Pertengahan” (Wasathiyah):
- Dalam berinfak: “Tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir.” (QS. Al-Furqan: 67).
- Dalam shalat: “Jangan mengeraskan suaramu dan jangan (pula) merendahkannya.” (QS. Al-Isra: 110).
- Prinsip “Mendengar tak sama dengan melihat”: Ucapan Nabi Ibrahim: “Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tetap mantap.” (QS. Al-Baqarah: 260).
- Prinsip “Mukmin tak jatuh di lubang yang sama dua kali”: Ucapan Nabi Ya’qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) dahulu.” (QS. Yusuf: 64).
3. Perumpamaan Bebas (Amtsal Mursalah)
Ini adalah ayat-ayat pendek yang berlaku seperti pepatah atau kata mutiara (quote) yang sangat populer karena kefasihannya.
- “Sekarang jelaslah kebenaran itu.” (QS. Yusuf: 51) – Biasa dipakai saat fakta terungkap.
- “Bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS. Hud: 81) – Pelipur lara saat menunggu pertolongan.
- “Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri.” (QS. Fathir: 43) – Karma buruk.
- “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60).
- “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 249).
Bolehkah Menggunakan Ayat Sebagai Pepatah? Para ulama berbeda pendapat:
- Dilarang: Sebagian ulama (seperti Ar-Razi) melarang karena Al-Qur’an diturunkan untuk dihayati dan diamalkan, bukan sekadar jadi bahan obrolan atau perumpamaan harian.
- Boleh dengan Syarat: Boleh jika digunakan dalam situasi serius/benar (misal: menghibur diri saat sedih). Namun, Haram dan Dosa Besar jika digunakan untuk bercanda atau sekadar pamer keahlian bahasa.
Referensi: Dasar – Dasar Ilmu Al-Qur’an – Syaikh Manna’ Al Qathan




