Kita sering mendengar “Riwayat Hafs dari Imam ‘Ashim”. Namun, tahukah Anda bahwa Imam ‘Ashim memiliki satu murid utama lagi yang tak kalah hebat? Dialah Imam Syu’bah bin Ayyasy.
Bernama lengkap Syu’bah bin Ayyasy al-Asadi al-Kufi (lahir 95 H – wafat 193 H), beliau adalah ulama besar yang bergelar Al-Hujjah (Sang Pembawa Bukti Kebenaran). Beliau bukan sekadar ahli Qira’at, tapi juga garda terdepan pembela akidah Ahlussunnah.
Tegas dalam Akidah, Lembut dalam Muamalah
Karakter Imam Syu’bah sangat unik. Beliau sangat keras terhadap penyimpangan akidah. Beliau pernah berkata tegas: “Barangsiapa yang menganggap Al-Qur’an sebagai makhluk, maka bagi kami ia adalah kafir zindiq.”
Namun, ketegasan itu berpadu indah dengan kelembutan hati. Suatu ketika, muridnya (Ahmad bin Yunus) mengabarkan bahwa ia memiliki tetangga penganut Syiah Rafidhah (kelompok yang berseberangan dengan Syu’bah) yang sedang sakit. Alih-alih membiarkan, Imam Syu’bah justru menyuruh muridnya untuk menjenguk tetangga tersebut, sebagaimana beliau mencontohkan menjenguk orang Yahudi dan Nasrani. Sebuah teladan toleransi sosial (muamalah) yang luar biasa tanpa menggadaikan prinsip akidah.
Murid Kesayangan Imam ‘Ashim
Hubungan Syu’bah dengan gurunya, Imam ‘Ashim, sangatlah dekat. Beliau belajar layaknya seorang anak kecil yang dituntun gurunya, huruf demi huruf, hingga kesulitan itu berubah menjadi kemudahan. Beliau berkata: “Saya benar-benar belajar Al-Qur’an dari beliau.”
Kedekatan ini membuatnya menjadi perawi yang banyak merekam sisi kehidupan Imam ‘Ashim, tidak hanya sisi bacaannya saja.
Mutiara Hikmah Sang Imam
Imam Syu’bah dikenal memiliki kata-kata hikmah yang mendalam. Salah satunya tentang bahaya popularitas:
“Efek terendah dari diam adalah selamat, cukuplah dengannya keselamatan. Serendah-rendahnya bahaya dari berbicara adalah tenar (syuhrah), cukuplah ketenaran tersebut menjadi petaka.”
Beliau juga membagi makhluk menjadi empat golongan yang unik:
- Ma’dzur (Dimaafkan): Binatang (karena tidak ada hisab).
- Makhbur (Diuji): Anak keturunan Adam (Manusia).
- Majbur (Dipaksa taat): Malaikat.
- Matsbur (Dibinasakan): Jin (yang ingkar).
Tangisan di Ujung Usia
Momen paling mengharukan terjadi saat ajal menjemputnya di usia 98 tahun. Melihat saudara perempuannya menangis di sisinya, Imam Syu’bah berkata dengan tenang:
“Kenapa kamu menangis? Janganlah menangis. Lihatlah tempat di pojok itu… Di sana saya telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 1.800 kali.”
Kalimat ini bukan kesombongan, melainkan tahadduits bin ni’mah (menyebut nikmat Allah) dan wasiat tersirat agar saudaranya tidak bersedih, karena ia akan pergi membawa bekal interaksi yang intens bersama Al-Qur’an.
Imam Syu’bah wafat pada tahun 193 H, setelah mendedikasikan hampir satu abad usianya untuk menjaga kalam Ilahi.
Referensi: Mengarungi Samudra Kemuliaan 10 Imam Qira’at – Moh. Fathurrozi, Lc, M.Th,I & Rif’iyatul Fahimah, Lc, M. Th,I




