
Pernahkah Anda bertanya, kenapa kata Lahu (لَهُ) dalam Al-Qur’an dibaca panjang (ada wau kecil), tapi kata Fieh (فِيهِ) dibaca pendek? Padahal sama-sama diakhiri huruf Ha’?
Jawabannya ada pada kaidah Ha’ Kinayah (هَاءُ الْكِنَايَةِ), yaitu huruf Ha’ tambahan yang berfungsi sebagai kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki (dia).
1. Filosofi Huruf Ha’: Si Lemah yang Butuh Sandaran
Secara fonologi, huruf Ha’ itu sifatnya lemah (khafa’/tersembunyi). Karena lemah, ia butuh penguat.
- Jika diapit dua huruf hidup (berharakat), ia “diberi tenaga” dengan dibaca panjang (shilah).
- Contoh: Innahu Huwa (إِنَّهُ هُوَ) → Dibaca panjang seolah ada Wau.
- Jika di dekatnya ada huruf mati (sukun), ia menjadi lemah kembali dan umumnya dibaca pendek.
2. Kapan Ha’ Kinayah Dibaca Panjang (Shilah)?
Para ulama Qira’at sepakat bahwa Ha’ Kinayah WAJIB dibaca panjang (Shilah) jika:
- Terletak di antara dua huruf hidup.
- Contoh: Innahu kana (إِنَّهُ كَانَ).
- Alasannya: Untuk membedakan Ha’ Kinayah (kata ganti) dengan Ha’ asli dari akar kata (seperti dalam kata Nafqahu atau Wajh).
3. Kapan Ha’ Kinayah Tidak Dibaca Panjang?
Umumnya, Ha’ Kinayah TIDAK dibaca panjang jika:
- Terletak setelah huruf mati (sukun).
- Contoh: Fiihi (فِيهِ), Minhu (مِنْهُ).
- Alasannya: Ha’ adalah huruf lemah. Jika sebelumnya sudah ada huruf mati (yang juga lemah/tenang), maka menyambungnya dengan bacaan panjang akan terasa berat (tsiqal).
PENGECUALIAN SPESIAL:
- Imam Ibnu Katsir: Beliau satu-satunya imam yang tetap memanjangkan Ha’ Kinayah meskipun didahului huruf mati.
- Contoh: Fiihii Muhana (فِيهِ مُهَانًا).
- Bagi Ibnu Katsir, Ha’ ini diperlakukan seperti huruf mandiri yang kuat, jadi tetap dipanjangkan.
- Imam Hafs (Riwayat Kita): Mengikuti kaidah umum (pendek jika didahului sukun), KECUALI pada satu tempat di Surah Al-Furqan ayat 69: (Wayakhlud fiihii muhaana). Di sini Hafs membacanya panjang (shilah) untuk tujuan mubalaghah (menekankan dahsyatnya azab).
4. Kasus-Kasus Unik Ha’ Kinayah
Ada beberapa kata dalam Al-Qur’an yang cara bacanya berbeda-beda di antara para imam Qira’at karena pertemuan dengan sukun atau huruf ‘illat yang terbuang:
- Yardhahu (يَرْضَهُ): Aslinya Yardhahuu. Karena Jazim (pembuang huruf), huruf wau-nya hilang. Sebagian imam (seperti Hafs) membacanya pendek/sukun (Yardhah), sebagian lain tetap panjang.
- Fa-Alqih (فَأَلْقِهْ): Aslinya Fa-Alqihi. Huruf Ya’ terbuang karena perintah (Amr). Hafs membacanya dengan sukun Ha’ (Fa-Alqih), bukan kasrah.
- Arjih (أَرْجِهْ): Dibaca sukun oleh Hafs.
5. Kenapa Hamzah Membaca ‘Alaihum’ (bukan ‘Alaihim’)?
Dalam riwayat Imam Hamzah, beliau membaca ‘Alaihum, Ilaihum, dan Ladaihum dengan Dhammah pada Ha’ (sementara kita biasa membaca Kasrah ‘Alaihim).
- Alasannya: Karena aslinya Ha’ dhomir itu harakat dasarnya adalah Dhammah (Hu). Hamzah mengembalikannya ke asal (Alaihum), sedangkan mayoritas imam (termasuk Hafs) mengubahnya jadi Kasrah (Alaihim) agar serasi dengan huruf Ya’ sebelumnya (karena Ya’ dan Kasrah itu “saudara”).
Memahami detail ini membuat kita sadar betapa telitinya para ulama menjaga setiap bunyi dalam Al-Qur’an agar sesuai dengan riwayat yang diajarkan Nabi ﷺ.
Referensi: Fiqh Aḥkām at-Tajwīd – Muḥammad ad-Dusūqī Kakhīlah




