Bagaimana Al-Qur’an Sampai Kepada Kita?

Mushaf Al-Qur’an yang kita baca hari ini tidak serta-merta turun dari langit dalam bentuk sebuah buku yang utuh. Ia melewati proses validasi dan dokumentasi paling ketat dalam sejarah umat manusia. Secara garis besar, pengumpulan Al-Qur’an (Jam’ul Qur’an) melewati tiga fase utama: Fase Pencatatan (Era Nabi ﷺ), Fase Pengumpulan (Era Abu Bakar), dan Fase Standardisasi (Era Utsman bin Affan).

Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah tabel komparasi dari ketiga fase tersebut sebelum kita bedah satu per satu:

AspekEra Nabi Muhammad ﷺEra Abu Bakar Ash-ShiddiqEra Utsman bin Affan
Kondisi FisikTertulis namun terpencar di berbagai media (pelepah kurma, batu, kulit).Terkumpul dalam satu bundel lembaran terpadu (Suhuf).Disalin menjadi beberapa buku utuh (Mushaf) untuk disebar.
Tujuan UtamaMencatat wahyu yang baru turun secara real-time.Menyelamatkan ayat dari kepunahan akibat wafatnya para penghafal.Menyatukan umat dalam satu standar bacaan (Rasm) agar tidak berpecah belah.
KarakteristikMenyesuaikan wahyu yang masih turun (bisa ada nasakh/penghapusan).Disusun runut, divalidasi dengan standar sangat ketat (hafalan + 2 saksi tulisan).Penyeragaman tulisan (Rasm Utsmani) yang mencakup ragam Qira’at/Ahruf.

1. Era Nabi Muhammad ﷺ: Fase Pencatatan Murni

Setiap kali wahyu turun, Jibril membacakannya kepada Nabi ﷺ. Karena Nabi seorang ummi, beliau langsung memerintahkan para sahabat untuk menghafal dan menuliskannya. Ada sekitar 29 sahabat yang bertugas sebagai penulis wahyu, termasuk Khulafaur Rasyidin, Zaid bin Tsabit, dan Muawiyah.

Mereka menuliskannya di atas media seadanya: pelepah kurma, batu pipih putih, potongan kulit, hingga tulang. Nabi ﷺ sendirilah yang menginstruksikan tata letaknya: “Letakkan ayat ini di surah ini, setelah ayat ini.”

Mengapa di era Nabi tidak langsung dibukukan?

  1. Faktor Wahyu: Al-Qur’an masih terus turun. Jika dibukukan, akan repot menyisipkan ayat baru.
  2. Faktor Nasakh: Terkadang ada ayat yang hukum atau bacaannya dihapus (di-nasakh) oleh Allah.
  3. Susunan Surat: Urutan turunnya ayat (kronologis) berbeda dengan urutan susunan di dalam Mushaf (Al-Fatihah, Al-Baqarah, dst).

2. Era Abu Bakar: Fase Penyelamatan (Suhuf)

Tragedi Perang Yamamah menjadi titik balik. 70 sahabat penghafal Al-Qur’an gugur syahid. Umar bin Khattab yang panik segera menemui Khalifah Abu Bakr, mengusulkan agar Al-Qur’an segera dikumpulkan demi mencegah hilangnya ayat.

Awalnya Abu Bakar menolak dengan alasan, “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah?”Namun, Allah melapangkan dadanya. Tugas maha berat ini diserahkan kepada pemuda cerdas, Zaid bin Tsabit.

Zaid menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) yang sangat ketat. Sebuah ayat baru diterima jika memenuhi syarat:

  1. Sesuai dengan hafalan di dada para sahabat.
  2. Ada bukti tulisan fisik yang ditulis di hadapan Nabi ﷺ.
  3. Disaksikan oleh minimal dua orang saksi (kecuali kasus ayat terakhir surah At-Taubah yang saksi tulisannya hanya Abu Khuzaimah, karena kesaksiannya oleh Nabi dinilai setara dua orang).

Hasil kerja keras Zaid ini disebut Suhuf (lembaran-lembaran yang diikat). Suhuf ini disimpan oleh Abu Bakr, lalu beralih ke Umar, dan kemudian dijaga oleh Hafsah binti Umar.

3. Era Utsman bin Affan: Fase Standardisasi (Mushaf)

Islam meluas dengan sangat cepat hingga ke Persia dan Syam. Pada Perang Armenia dan Azerbaijan, panglima Huzaifah bin Al-Yaman kaget melihat pasukan dari Irak dan Syam nyaris saling bunuh hanya karena menyalahkan bacaan (qira’at) Al-Qur’an satu sama lain.

Mendapat laporan ini, Khalifah Utsman segera meminjam Suhuf dari Hafsah. Beliau membentuk panitia yang dipimpin kembali oleh Zaid bin Tsabit, beranggotakan Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-Aas, dan Abdurrahman bin Harith.

Instruksi Utsman sangat tegas: Salin Suhuf itu ke dalam bentuk Mushaf. Jika ada perbedaan dialek, tuliskan dengan Lisan Quraisy.

Mushaf ini ditulis tanpa titik dan harakat, dirancang secara jenius agar bisa mengakomodasi berbagai wajah Qira’atyang sahih dari Nabi ﷺ, tanpa harus menulis ganda yang bisa membingungkan umat.

Setelah selesai, Mushaf Al-Imam ini dikirim ke berbagai pusat kota Islam, dan Utsman memerintahkan agar seluruh catatan pribadi yang berbeda untuk dibakar demi menyatukan umat. Keputusan politik dan keagamaan yang brilian ini disetujui oleh seluruh sahabat, termasuk Ibnu Mas’ud.

Inilah sejarah panjang Al-Qur’an; dijaga oleh hafalan, diikat oleh tulisan, dan disatukan oleh kepemimpinan yang bervisi jauh ke depan.

Referensi: Kaifa Tahfazul Quran – Mustofa Murad

Scroll to Top