
Pengaruh Al-Qur’an terhadap generasi Salafush Saleh—para sahabat dan tabi’in—sungguh luar biasa. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan nafas kehidupan yang membentuk rasa takut kepada Allah, membasahi pipi dengan air mata, dan menjadi neraca untuk segala keputusan hidup.
Di antara bintang-bintang cemerlang itu, sosok Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bersinar paling terang. Beliau adalah orang pertama yang membenarkan Rasulullah ﷺ, “Kekasih” (khalil) pilihan Nabi jika diperbolehkan selain Allah, dan manusia paling dermawan yang balasannya langsung dijamin oleh Allah di akhirat.
Hati yang Lembut dan Tangisan yang Menggetarkan
Abu Bakar dikenal sebagai sosok yang Asif—sangat lembut hatinya dan mudah menangis.
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menggambarkan ayahnya kepada Rasulullah ﷺ:
“Wahai Rasulullah, sungguh Abu Bakar itu orang yang sangat lembut, jika ia yang menggantikan tempatmu (menjadi imam), maka aku khawatir tidak ada yang bisa mendengar bacaannya karena terlalu banyaknya ia menangis.” (HR. Muslim)
Suara beliau saat membaca Al-Qur’an digambarkan sebagai suara yang mendominasi namun lembut, merdu, dan penuh kekhusyukan.
Bacaan yang Menggetarkan Hati Orang Kafir
Ada satu kisah masyhur saat Abu Bakar masih di Makkah. Beliau membaca Al-Qur’an di halaman rumahnya dengan penuh penghayatan dan tangisan. Ternyata, para wanita dan anak-anak kaum musyrikin Quraisy berkerumun mengelilingi rumahnya, terenyuh dan takjub mendengarkan lantunan ayat suci tersebut.
Hal ini membuat para pemuka Quraisy panik dan meminta Ibnu Ad-Daginah (penjamin keamanan Abu Bakar) untuk melarangnya membaca di luar rumah. Ketika diberi pilihan: berhenti membaca secara terbuka atau kehilangan jaminan perlindungan, Abu Bakar dengan tegas menjawab:
“Aku memilih untuk melepaskan kebertetanggaanku denganmu, karena aku lebih senang bertetangga dengan Allah dan Rasul-Nya.”
Meneguhkan Umat Saat Nabi Wafat
Kekuatan interaksi Abu Bakar dengan Al-Qur’an terbukti di momen paling kritis dalam sejarah Islam: wafatnya Rasulullah ﷺ. Saat Umar bin Khatthab menghunus pedang dan menolak percaya bahwa Nabi telah tiada, Abu Bakar hadir dengan ketenangan luar biasa.
Beliau membacakan firman Allah:
$$وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ…$$
“Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?…” (QS. Ali ‘Imran: 144)
Ayat ini seolah baru pertama kali didengar oleh para sahabat. Umar pun lemas dan jatuh tersungkur, menyadari kebenaran bahwa kekasihnya telah tiada, namun Allah Yang Maha Hidup tidak akan pernah mati.
Takut Akan Dunia
Suatu ketika, Abu Bakar meminta minum. Saat air bercampur madu disuguhkan, beliau tiba-tiba menangis hingga membuat orang-orang di sekitarnya ikut menangis. Ketika reda, beliau menjelaskan alasannya:
Beliau teringat pernah melihat Rasulullah ﷺ seolah mendorong sesuatu menjauh sambil berkata, “Menjauhlah dariku!”Ternyata, itu adalah Dunia yang sedang menggoda Nabi. Dunia itu kemudian berkata, “Demi Allah, engkau memang bisa menjauhkan aku darimu, tetapi tidak dengan orang-orang setelahmu.”
Tangisan Abu Bakar adalah bentuk ketakutan mendalam bahwa dirinya termasuk orang yang tergoda oleh dunia tersebut.
Wasiat Akhir Sang Shiddiq
Hingga detik-detik sakaratul maut, Al-Qur’an tetap di lisannya. Saat Aisyah melantunkan syair kesedihan, Abu Bakar mengoreksinya dengan membacakan ayat:
$$وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ$$
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19)
Beliau pun berwasiat agar dikafani dengan baju usangnya yang telah dicuci, karena “Orang yang masih hidup lebih membutuhkan baju baru dibandingkan jenazah yang sudah mati.”
Sebuah penutup kehidupan yang zuhud, tawadhu’, dan penuh cinta kepada Al-Qur’an dari manusia terbaik setelah para Nabi.
Referensi: Hālu As-Salaf Ma’a Al-Qur’ān – Dr. Badar bin Nashir Al-Badar




