Biografi Imam Hafs: Anak Tiri Imam ‘Ashim yang Bacaannya Mendunia

Jika Anda membuka mushaf Al-Qur’an di Indonesia, Arab Saudi, atau sebagian besar negara dunia, Anda sedang membaca Al-Qur’an dengan Riwayat Hafs dari Imam ‘Ashim. Padahal, Imam ‘Ashim punya dua murid utama: Syu’bah dan Hafs. Kenapa Hafs yang “menang” dalam popularitas?

Mari mengenal lebih dekat sosok yang suaranya bergema di lisan miliaran muslim ini.

Profil Sang Imam: Anak Tiri yang Menjadi Pewaris Ilmu

Nama lengkapnya adalah Hafs bin Sulaiman al-Asadi al-Kufi (90 H – 180 H). Beliau bukan sekadar murid, tapi juga anak tiri dari Imam ‘Ashim. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah dengan Imam ‘Ashim.

Kedekatan ini membuat Hafs mendapatkan pendidikan privat yang intensif. Beliau dididik langsung di pangkuan Imam ‘Ashim dengan metode talqin (didiktekan) dan tasmi’ (diperdengarkan) sejak kecil hingga dewasa. Tak heran jika kualitas hafalannya (dhabth) dinilai lebih unggul daripada saudara seperguruannya, Imam Syu’bah.

Rahasia Popularitas Riwayat Hafs

Ada beberapa faktor sejarah dan teknis yang membuat Riwayat Hafs mendominasi dunia Islam:

1. Faktor Geografis dan Mobilitas Dakwah Imam Hafs adalah seorang pengembara ilmu. Beliau pernah tinggal dan mengajar di dua pusat peradaban Islam terbesar saat itu: Baghdad dan Makkah.

  • Di Baghdad, beliau menyebarkan bacaannya kepada para penuntut ilmu dari berbagai penjuru.
  • Di Makkah, saat musim haji, bacaannya menyebar ke seluruh dunia Islam melalui para jamaah haji. Sementara itu, Imam Syu’bah lebih banyak menetap di Kufah dan sempat berhenti mengajar selama 7 tahun menjelang wafatnya.

2. Sanad yang “Lebih Tinggi” Meskipun berguru pada orang yang sama (Imam ‘Ashim), jalur keilmuan keduanya berbeda di atasnya:

  • Jalur Hafs: ‘Ashim ➔ Abu Abdurrahman as-Sullami ➔ Ali bin Abi Thalib.
  • Jalur Syu’bah: ‘Ashim ➔ Zir bin Hubaisy ➔ Abdullah bin Mas’ud. Imam ‘Ashim sendiri mengakui bahwa bacaan yang diajarkan kepada Hafs adalah bacaan yang sanadnya bersambung kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

3. Faktor Teknologi Cetak & Audio Pada era modern, dominasi Hafs semakin tak terbendung karena:

  • Mesin Cetak: Al-Qur’an cetakan pertama di dunia Islam (termasuk yang dicetak di Jerman tahun 1694 M) menggunakan Riwayat Hafs.
  • Rekaman Audio: Qari legendaris Syekh Mahmud Khalil al-Hushari pertama kali merekam murattal 30 juz menggunakan Riwayat Hafs. Rekaman ini menjadi standar rujukan di radio-radio seluruh dunia.

Satu-Satunya Perbedaan dengan Sang Guru

Imam Hafs adalah murid yang sangat setia dengan bacaan gurunya. Beliau berkata bahwa bacaannya sama persis dengan Imam ‘Ashim, KECUALI pada satu kata dalam Surah Ar-Rum ayat 54: Dha’fin (ضَعْفٍ).

  • Imam ‘Ashim membacanya dengan Fathah (Dha’fin).
  • Imam Hafs membacanya dengan Dhammah (Dhu’fin), meskipun beliau juga meriwayatkan wajah fathah.

Kesimpulan

Kepopuleran Riwayat Hafs bukan kebetulan, melainkan buah dari dedikasi total (fokus pada Al-Qur’an, tidak bercabang ke Hadis seperti Syu’bah), mobilitas dakwah yang tinggi, dan takdir Allah yang menjadikannya standar bacaan umat Islam di akhir zaman.

Referensi: Mengarungi Samudra Kemuliaan 10 Imam Qira’at  – Moh. Fathurrozi, Lc, M.Th,I & Rif’iyatul Fahimah, Lc, M. Th,I

Scroll to Top