
Pernahkah terbayang, kelak di Hari Kiamat, Rasulullah ﷺ yang kita harapkan syafaatnya justru mengadu kepada Allah tentang perilaku kita?
Allah merekam aduan Nabi tersebut dalam Surah Al-Furqan ayat 30: “Berkatalah Rasul: Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan (mahjuura).”
Apa sebenarnya makna Mengabaikan Al-Qur’an (Hajrul Qur’an)? Apakah hanya sekadar tidak membacanya? Ternyata tidak sesederhana itu.
5 Bentuk Pengabaian Al-Qur’an (Menurut Ibnul Qayyim)
Ibnul Qayyim rahimahullah merinci bahwa seseorang bisa dianggap mengabaikan Al-Qur’an jika melakukan salah satu dari hal berikut, meskipun ia menghafalnya:
- Hajrul Sama’: Tidak mau mendengarkan dan tidak mengimaninya.
- Hajrul Amal: Tidak mengamalkan isinya. Ia membaca halal-haram, tapi tidak mematuhi batasan tersebut.
- Hajrul Tahkim: Tidak menjadikannya sebagai hakim/sumber hukum dalam masalah ushul (pokok) maupun furu’ (cabang) agama. Ia lebih percaya pada logika atau pendapat manusia daripada dalil Al-Qur’an.
- Hajrul Tadabbur: Membacanya hanya di lisan, tapi tidak mau merenungkan (tadabbur) maknanya dan tidak berusaha memahami apa maksud Allah dalam ayat tersebut.
- Hajrul Istisyfa’: Tidak menjadikannya sebagai obat (syifa’). Ketika hati sakit (gelisah, dengki, ragu), ia mencari penyembuh dari selain Al-Qur’an.
Solusinya: Hidupkan Hati dengan Tadabbur
Lawan dari mengabaikan adalah Tadabbur. Tadabbur bukan sekadar membaca terjemahan. As-Sa’di menjelaskan bahwa tadabbur adalah memfokuskan pikiran pada makna, melihat konteks awal dan akhir, serta konsekuensi dari ayat tersebut.
Mengapa Tadabbur itu Krusial?
- Nutrisi Hati: Ibnul Qayyim berkata, “Membaca satu ayat dengan tadabbur dan pemahaman lebih baik daripada mengkhatamkan Al-Qur’an (tanpa pemahaman).” Satu ayat yang meresap bisa menyembuhkan penyakit hati dan mendatangkan kemanisan iman.
- Cermin Diri: Al-Ajuri mengumpamakan Al-Qur’an sebagai cermin. Dengan tadabbur, kita bisa melihat “wajah” amal kita, mana yang baik dan mana yang buruk.
4 Penghalang Utama Tadabbur
Jika kita merasa sulit menangis atau bergetar saat membaca Al-Qur’an, waspadai 4 penghalang ini:
- Dosa yang Menumpuk: Dosa ibarat karat yang menutupi hati (Raan). Hati yang kotor tidak akan bisa menangkap cahaya Al-Qur’an.
- Hati yang Sibuk: Hati yang penuh dengan hiruk-pikuk dunia, nyanyian, atau hal sia-sia, tidak akan punya ruang untuk firman Allah.
- Tidak Paham Bahasa Arab: Al-Qur’an turun dalam Bahasa Arab yang fasih. Tidak mengerti kaidah bahasa membuat kita seperti mendengar suara tanpa makna. Kunci gudang ilmu Al-Qur’an adalah Bahasa Arab.
- Menjauhi Tafsir: Membaca Al-Qur’an tanpa merujuk kitab tafsir atau memahami Asbabun Nuzul akan membuat pemahaman menjadi dangkal dan tidak nikmat.
Mari kita cek kembali interaksi kita dengan Al-Qur’an. Jangan sampai kita rajin membacanya, namun status kita di mata Allah adalah “Pengabaian Al-Qur’an” karena tidak mentadaburi dan mengamalkannya.
Referensi: Adab-Adab Halaqah Al-Qur’an – Sayyid Mukhtar Abu Syadi




