
Siapa yang tidak kenal Umar bin Khatthab? Sosok yang ditakuti musuh, bahkan setan pun memilih jalan lain jika berpapasan dengannya. Namun, di balik ketegasannya yang melegenda, tersimpan hati yang begitu lembut, mudah rapuh, dan gemetar saat berhadapan dengan firman Allah.
Umar adalah bukti nyata bagaimana Al-Qur’an mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang adil, rendah hati, dan visioner.
Hukum Allah di Atas Segalanya
Bagi Umar, Al-Qur’an adalah batas tegas yang tidak boleh dilanggar. Suatu ketika, Uyainah bin Hishn datang dengan sombong dan berkata kasar kepada Umar: “Wahai Ibnul Khatthab, demi Allah kamu tidak memberikan hak kami dan tidak adil dalam memutuskan perkara.”
Mendengar tuduhan tak berdasar itu, Umar geram dan hampir melayangkan pukulan. Namun, Al-Hurr bin Qais segera membacakan ayat:
$$خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ$$
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”(QS. Al-A’raf: 199)
Seketika itu juga, Umar langsung berhenti. Amarahnya padam total. Beliau adalah orang yang sangat teguh berhenti pada batasan Al-Qur’an (waqqafan ‘inda Kitabillah).
Karunia Terbesar Bukan Harta, Tapi Al-Qur’an
Saat menerima ganimah (harta rampasan perang) yang melimpah ruah, seorang pegawai berkata dengan takjub, “Semua ini adalah karunia dan rahmat dari Allah untuk kita.”
Umar segera mengoreksinya dengan tegas: “Kamu keliru. Karunia dan rahmat dari Allah (yang sejati) untuk kita adalah Al-Qur’an.”
Lalu beliau membaca firman Allah:
$$قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ$$
“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.'” (QS. Yunus: 58)
Bagi Umar, tumpukan emas dan perak tidak ada artinya dibandingkan satu ayat Al-Qur’an.
Tangisan Sang Khalifah
Kelembutan hati Umar sering kali membuat makmumnya tidak mendengar bacaan shalatnya karena tertutup isak tangis.
- Saat membaca Surah Yusuf ayat 86: “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…”, tangisannya pecah hingga terdengar ke shaf belakang.
- Saat membaca Surah Al-Muddatsir ayat 8-10 tentang beratnya Hari Kiamat, beliau jatuh sakit dan mengurung diri di rumah hingga orang-orang mengiranya sakit fisik, padahal sakit karena takut kepada Allah. Di wajahnya bahkan terdapat dua garis hitam bekas aliran air mata yang deras.
Pelajaran Kerendahan Hati dari Rakyat Jelata
Suatu hari, Umar mendengar seorang pria berdoa: “Ya Allah, jadikanlah aku di antara orang-orang yang sedikit.”
Umar heran dan bertanya alasannya. Pria itu menjawab dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa hamba Allah yang bersyukur itu “sedikit” (QS. Saba: 13) dan orang beriman itu “sedikit” (QS. Hud: 40).
Mendengar itu, Sang Khalifah yang agung berkata dengan rendah hati: “Banyak orang yang lebih tahu daripada Umar.”
Muhasabah Sebelum Dihisab
Nasihat Umar yang paling legendaris lahir dari pemahaman mendalamnya tentang Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) dalam Al-Qur’an:
“Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab. Timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang nanti. Bersiaplah untuk hari pelaporan yang agung, di mana tidak ada rahasia yang tersembunyi.”
Umar bin Khatthab mengajarkan kita bahwa setinggi apa pun jabatan dan sekeras apa pun karakter seseorang, di hadapan Al-Qur’an, ia hanyalah hamba yang kecil, yang merindukan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.
Referensi: Hālu As-Salaf Ma’a Al-Qur’ān – Dr. Badar bin Nashir Al-Badar




